InfoSAWIT, JAKARTA – Cargill, perusahaan yang berkomitmen pada produksi kelapa sawit berkelanjutan, telah menjalin kemitraan kuat dengan Petani Sawit Swadaya dalam upaya menciptakan basis pasokan sawit yang berkelanjutan. Pada tahun 2020, Cargill meluncurkan inisiatif ini dengan melibatkan Petani Sawit Swadaya di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat, didukung oleh pendanaan dari Inisiatif Dagang Hijau (IDH) dan JDE, serta pendampingan dari Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI).
Dalam perjalanan inisiatif ini, Cargill bersama Petani Sawit Swadaya membentuk Kelompok Petani Swadaya, seperti Perkumpulan Petani Swadaya Mitra Hindoli (PPSMH) di Sumatera Selatan dan Perkumpulan Petani Mitra Harapan (PPMH) di Ketapang, Kalimantan Barat. Kedua kelompok ini berhasil memperoleh sertifikasi RSPO pada bulan Oktober dan November 2023.
Untuk meningkatkan hasil produksi sawit berkelanjutan, kolaborasi antara Cargill, PPSMH, dan PPMH mengusung skema sertifikasi segregasi. Skema ini memperdagangkan produk bersertifikasi RSPO dengan model perdagangan fisik, menjadikan Cargill sebagai perusahaan pertama di dunia yang melakukan pembelian TBS fisik bersertifikat RSPO dari Pekebun Swadaya. Skema segregasi ini menggantikan skema Mass Balance (MB) sebelumnya, yang menggunakan skema kredit melalui palm trace.
BACA JUGA: Maraknya Pencurian Massal TBS Sawit di Kalteng, GAPKI Harap Iklim Investasi di Jaga Aman
Meskipun penerapan skema segregasi membawa tantangan tersendiri, Cargill dan Petani Sawit Swadaya mitra berkomitmen menjaga kualitas segregasi TBS fisik yang bersertifikat RSPO. Melalui model kerjasama ini, perolehan hasil premi diharapkan menjadi lebih kompetitif dan menguntungkan bagi kedua belah pihak, menciptakan insentif langsung melalui perdagangan fisik TBS.
Indonesia Tropical Oils Sustainability Lead, Cargill, Yunita Widiastuti menyatakan, bahwa inovasi kolaborasi ini bertujuan untuk melibatkan Petani Swadaya dalam rantai pasok berkelanjutan dan produksi sawit berkelanjutan secara langsung.
“Model ini juga diharapkan menjadi landasan bagi kolaborasi jangka panjang antara Petani dan pabrik Cargill, mendukung kesejahteraan Petani Swadaya di wilayah operasional perusahaan,” katanya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Senin (18/12/2023).
BACA JUGA: Impor Minyak Sawit Jerman Tiba-Tiba Menguat
Hingga saat ini, PPSMH di Sumatera Selatan memiliki 209 anggota Petani Swadaya dengan luas lahan mencapai 341 Ha, sementara PPMH di Ketapang, Kalimantan Barat, beranggotakan 310 Petani Swadaya yang mengelola lahan seluas total 1,365 Ha.
Sementara, Kepala Sekretariat FORTASBI, Rukaiyah Rafik menegaskan, bahwa Cargill telah membuktikan bahwa melibatkan Petani Swadaya dalam skema Identitas Preservasi (IP) dan Segregasi (SG) sangat dimungkinkan. Menurutnya, model ini bukan hanya mendorong traceability bagi Petani Swadaya, tetapi juga mempromosikan relasi kemitraan produksi dan kepastian pasar TBS Petani Swadaya, yang dapat menjadi rujukan bagi implementasi regulasi EUDR yang sedang diperbincangkan. (T2)
