InfoSAWIT, JAKARTA – “EUDR tidak akan menghentikan deforestasi jika petani sawit swadaya tidak dilibatkan untuk ambil bagian. Untuk itu EUDR Plus harus digagas Dimana memasukkan Independent Smallholders Inclusiveness Due Diligent (ISHIDD) dalam bagian penting EUDR”.
Regulasi Uni Eropa Bebas Deforestasi (EUDR) sebetulnya dipersoalkan Bukan karena tujuannya untuk menghentikan deforestasi, karena memang tingkat penurunan luas hutan di Indonesia semakin memprihatinkan, namun pemberlakuan regulasi ini ditengarai akan berdampak pada 3 juta Petani sawit swadaya yang selama ini menggantungkan hidupnya dari kelapa sawit. Petani sawit swadaya dengan semua masalah yang dihadapi dilapangan seperti persoalan legalitas, data lahan, GPS, akses pada informasi, akses pasar Tandan Buah Segar (TBS) sawit dikhawatirkan akan membuat Petani tersingkir dari perdagangan produk yang akan masuk ke pasar EU.
Menyingkirkan petani sawit swadaya akan menambah masalah baru bagi keberlansungan hutan, karena Petani adalah pihak yang paling dekat dengan hutan, artinya Petani adalah pihak yang paling dekat dengan kerusakan dan pada satu sisi juga paling dengan dengan perlindungan. Meninggalkan Petani tentu bukanlah pilihan jika EUDR bertujuan menghentikan deforestasi. EUDR memang bukanlah system sertifikasi seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), namun harusnya berkerja selayaknya standar sertifikasi yang menjadi alat untuk control dan pembatasan kerusakan, dan pelibatan Petani swadaya adalah suatu keharusan untuk memastikan EUDR tidak hanya menjadi alat pembersih konsumsi UE tapi juga menjadi alat untuk mencegah deforestasi di negara-negara produsen sawit.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 5-9 Januari 2024 Turun Tipis
Untuk memastikan EUDR tidak menyingkirkan Petani, perlu ada transformasi untuk memasukkan uji tuntas untuk keterlibatan Petani melalui ISHIDD (Independent Smallholders Inclusiveness Due Diligent). ISHIDD ini adalah Upaya untuk memastikan negara produsen, Perusahaan-perusahaan memasukkan Petani kecil menjadi bagian penting dalam supply chain mereka. Beberapa model inclusi Petani yang dapat menjadi pertimbangan dalam EUDR adalah :
Operator memberikan prioritas import kelapa sawit yang mengandung produk Petani swadaya, paling tidak 20% dari total volume. Dengan cara ini, Perusahaan-perusahaan besar akan berupaya untuk melibatkan Petani swadaya dalam supply base mereka dan memastikan supply base yang berasal dari Petani sawit swadaya traceable dan legal. Ini adalah Upaya mendorong tanggung jawab Perusahaan besar untuk mendorong dukungan Perusahaan kepada Petani swadaya.
Jika EU memberikan prioritas untuk produk Petani dipasar EU, maka hal ini akan mendorong Perusahaan untuk proaktif dalam melibatkan Petani kecil. Selain itu juga akan mendorong pemerintah untuk mengambil Langkah penting melalui regulasi nasional dan local untuk mendorong relasi antara Perusahaan dan Petani swadaya.
BACA JUGA: Cargill dan Petani Sawit Swadaya, Lakukan Kolaborasi Inovatif untuk Sawit Berkelanjutan
Jika demikian, maka EUDR Plus tidak hanya akan memberi dampak pada penghentian deforestasi, tapi juga akan berdampak pada perbaikan relasi antara Perusahaan dengan Petani swadaya, kepastian pasar bagi Petani swadaya, akses dukungan dan informasi, yang pada ujungnya akan berdampak pula pada membaiknya pendapatan dan sumber kehidupan Petani swadaya atau Petani kecil. (*)
Penulis: Rukaiyah Rafiq/Kepala Sekretariat Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Fortasbi)
