InfoSAWIT, SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, terus berkomitmen untuk mengoptimalkan pemberdayaan perkebunan kelapa sawit, khususnya perkebunan swadaya. Salah satu upaya nyata yang dilakukan adalah melalui workshop Rencana Aksi Daerah Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD-KSB) yang diselenggarakan baru-baru ini.
Workshop ini bertujuan untuk mengevaluasi RAD-KSB di daerah tersebut, menilai capaian yang telah dicapai, dan merumuskan langkah-langkah ke depan. Dalam workshop ini, Sekretaris Daerah Kotim, Fajrurrahman, menyatakan pentingnya menangani tujuan pemberdayaan perkebunan kelapa sawit, terutama yang bersifat swadaya, dengan sebaik-baiknya.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim dan dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Asisten II Setda Kotim, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, dan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng melalui jalur daring.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Stagnan di Rp 12.100/Kg Pada Senin (22/1)
Fajrurrahman menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program RAD-KSB yang telah berlangsung sejak tahun 2020 hingga 2024. Hal ini merupakan bukti konkret dari komitmen pemerintah daerah dalam membangun tata kelola perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.
Meskipun terdapat beberapa kendala dalam implementasi program, seperti dinamika peraturan, pasar global, dan regulasi dalam dan luar negeri, Fajrurrahman menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap berupaya mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
Pemerintah daerah juga memberikan pendampingan terhadap RAD-KSB untuk mensukseskan program tersebut. Pada tahun 2025, mereka berencana untuk lebih memetakan dan menguatkan pendampingan serta pendanaan terhadap program tersebut.
BACA JUGA: Distan Mukomuko Ajukan Program Peremajaan Sawit Rakyat 1.644 Ha di 2024
Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan di Kotim, dengan luas tutupan kebun kelapa sawit mencapai 566.000 hektare. Dari luas tersebut, 23 persennya merupakan kebun yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat. Kabupaten ini memiliki peran penting dalam perekonomian daerah dan masyarakat sebagai salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia.
