InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit berjangka Malaysia mencatat kenaikan untuk sesi kelima berturut-turut pada Jumat (29/11), didorong kekhawatiran pasokan akibat hujan lebat yang memperburuk produksi yang sudah melemah.
Dilansir Reuters, harga kontrak acuan FCPOc3 untuk pengiriman Februari di Bursa Malaysia Derivatives naik 138 ringgit atau 2,82% menjadi 5.023 ringgit per metrik ton pada penutupan. Sepanjang pekan, kontrak ini mencatatkan kenaikan 8,21%, tertinggi sejak Juni 2023, setelah sebelumnya turun dalam dua pekan terakhir.
Hujan deras, terutama di pesisir timur dan wilayah utara Semenanjung Malaysia, memperburuk kondisi produksi, menurut Paramalingam Supramaniam, Direktur Pelindung Bestari. “Sentimen pasar tetap rapuh, dan kendala pasokan akan menjaga harga tetap defensif,” ujarnya.
BACA JUGA: SPKS Dorong Percepatan Sertifikasi ISPO bagi Petani Sawit Swadaya di Sulawesi Barat
Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan stok minyak sawit turun 6,32% pada Oktober menjadi 1,88 juta ton, sementara produksi minyak sawit mentah turun 1,35% menjadi 1,80 juta ton.
Harga minyak sawit juga mengikuti pergerakan minyak nabati lainnya. Kontrak soyoil paling aktif di Dalian naik 1,49%, sedangkan kontrak minyak sawitnya bertambah 3,05%.
Sementara itu, harga minyak mentah global melemah lebih dari 3% dalam sepekan, dengan Brent Crude turun menjadi $72,78 per barel karena berkurangnya kekhawatiran atas konflik Israel-Hezbollah yang sebelumnya memicu ketegangan pasokan.
BACA JUGA: Petani Sawit Swadaya Anggota Koperasi Tunas Merapi Manunggal Raih Sertifikasi RSPO
Ringgit menguat 0,09% terhadap dolar AS, membuat minyak sawit lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang asing. (T2)
