SPKS juga memiliki peta jalan bagi para anggotanya, supaya terlibat langsung dalam melakukan produksi minyak sawit berkelanjutan berlandaskan prinsip dan kriteria berkelanjutan universal, guna memenuhi kebutuhan pasar global. Sebab itu, sebagai organisasi petani kelapa sawit mandiri, SPKS memiliki visi untuk melakukan transformasi berkelanjutan dari petani kecil, masyarakat lokal atau masyarakat adat sebagai petani sawit untuk memproduksi sawit berkelanjutan.
Kendati tidaklah mudah dalam menerapkan prinsip dan kriteria berkelanjutan bagi petani kelapa sawit mandiri, namun berkat kerja keras dan ketekunan para anggota SPKS, maka sebagian anggota SPKS telah berhasil mendapatkan sertifikasi ISPO dan RSPO. Tentunya, keberhasilan mendapatkan sertifikasi ISPO dan RSPO ini, juga merupakan hasil kerja bersama para pemangku kepentingan lainnya, seperti pemerintah pusat dan daerah, asosiasi sawit, organisasi masyarakat dan dukungan pendanaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang senantiasa berkolaborasi bersama SPKS.
SPSK juga mendorong kerjasama dari anggotanya guna menerapkan prinsip dan kriteria berkelanjutan melalui kesadaran tinggi para anggotanya. Berbagai aksi yang dilakukan SPKS melalui berbagai kegiatannya seperti membangun komitmen petani, pemetaan dan pendataan petani, membangun kelembagaan petani, pelatihan praktik budidaya terbaik dan berkelanjutan, sertifikasi keberlanjutan ISPO dan RSPO, menghubungkan keberadaan petani kelapa sawit mandiri dengan konsumen secara langsung dan restorasi ekosistem.
BACA JUGA: Harga CPO Diproyeksikan Stabil di Tengah Pasokan Global yang Ketat pada 2025
Berikut ulasan lengkap akan sepak terjang SPKS dalam mendorong petani kelapa sawit mandiri dalam menerapkan prinsip dan kriteria berkelanjutan hingga mendapatkan sertifikasi ISPO dan RSPO:
- Membangun Komitmen Keberlanjutan Petani Kelapa Sawit Mandiri
Kesadaran memproduksi minyak sawit berkelanjutan di kalangan petani kelapa sawit terbilang masih sangat rendah, terkadang petani dianggap tidak mampu mengikuti cara produksi sawit berkelanjutan sesuai dengan standar sertifikasi. Kendati belum mampu mengikuti standar keberlanjutan ISPO atau RSPO, hasil panen Tandan Buah Segar (TBS) petani, juga masih di beli oleh Perusahaan. Alhasil, banyak anggapan petani mengenai prinsip dan kriteria keberlanjutan, belum menjadi kewajiaban yang harus dilakukannya. Kendati, ada sebagian petani kelapa sawit mandiri yang sudah mengerti akan pentingnya minyak sawit berkelanjutan.
SPKS menyadari akan adanya ketimpangan pemahaman akan keberadaan minyak sawit berkelanjutan tersebut. Kehidupan petani sawit mandiri yang banyak berada di pelosok-pelosok desa, sangat minim informasi dan pengetahuan akan minyak sawit berkelanjutan. Hal tersebut menjadi tantangan awal bagi SPKS untuk memberikan edukasi dan pembelajaran bersama kepada petani kelapa sawit mandiri akan pentingnya melakukan praktik budidaya terbaik dan berkelanjutan.
BACA JUGA: FPKMS Bagian Reforma Agraria Melalui Redistribusi Tanah, Bukan Buka Lahan Baru
Berikutnya, tantangan menghasilkan minyak sawit berkelanjutan berasal dari kesadaran dan komitmen para petani kelapa sawit mandiri. Sebab, masih terbersit dalam benak petani kelapa sawit mandiri akan besarnya kesulitan hidup, sehingga petani sawit seringkali berpikir akan untung dan rugi apabila melakukan praktik budidaya terbaik dan berkelanjutan berlandaskan prinsip dan kriteria berkelanjutan. (T1)
