InfoSAWIT, BENGKULU — Komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit kembali diwujudkan melalui program pelatihan intensif bagi para petani sawit di Provinsi Bengkulu. Program ini merupakan hasil sinergi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, serta PT Citra Widya Education (CWE) sebagai pelaksana kegiatan.
Digelar selama lima hari, sejak 19 hingga 23 Mei 2025, pelatihan ini menyasar 123 petani dari Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Seluma, dengan rincian 60 peserta dari Kabupaten Bengkulu Utara untuk Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit.
Lantas, 33 peserta dari Kabupaten Seluma untuk Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit, dan 30 peserta dari Kabupaten Bengkulu Utara untuk Pelatihan Panen dan Pascapanen.
Fokus utama pelatihan adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan teknis petani sesuai prinsip Good Agricultural Practices (GAP) dan tata kelola berkelanjutan. Harapannya, para petani tidak hanya mampu mengelola kebun secara lebih efisien, tetapi juga meningkatkan hasil produksi serta kesejahteraan.
“Sekitar 42% dari total 16,38 juta hektar lahan kelapa sawit di Indonesia dikelola oleh petani swadaya dan plasma. Ini artinya sekitar 6,7 juta hektar ada di tangan petani rakyat. Sudah seharusnya negara hadir memberikan pendampingan,” ujar Ahmad Mahfud, Manager Operasional Pengembangan Bisnis PT CWE dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Selasa (20/5/2025).
Ia menambahkan, pelatihan ini adalah langkah konkret menuju kemandirian energi dan pangan nasional melalui penguatan kapasitas petani.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Pada Senin (19/5), Harga Minyak Sawit di Bursa Malaysia Menguat
Tak hanya di kelas, peserta juga akan melakukan kunjungan lapangan ke kebun sawit perusahaan untuk melihat langsung praktik terbaik pengelolaan kebun. Para narasumber berasal dari kalangan praktisi berpengalaman, sehingga materi yang diberikan bersifat aplikatif dan kontekstual.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkulu Utara, Desmon Siboro, menekankan pentingnya transformasi cara bertani. “Kita ingin petani beralih dari kebiasaan menanam secara tradisional menuju budidaya yang berstandar dan berbasis ilmu,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan bahwa luas kebun sawit rakyat di daerahnya mencapai 96.000 hektar, namun produktivitasnya masih di bawah 7 ton per hektar per tahun — jauh dari potensi optimal.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Seluma, Arian Sosial, mengingatkan agar peserta benar-benar memanfaatkan pelatihan ini sebagai wadah mencari solusi atas tantangan di lapangan. “Jangan hanya hadir secara fisik, tapi juga hadir secara pikiran dan semangat,” ucapnya.
BACA JUGA: EUDR dan Keadilan Ganda, Saatnya Uni Eropa Bercermin
Sementara itu, dari tingkat provinsi, Hidayatullah selaku Sekretaris Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Bengkulu menyatakan apresiasi atas kegiatan ini. “Ini momen penting untuk menyegarkan kembali pengetahuan teknis petani sawit. Kadang, meski sudah lama menanam, belum tentu cara yang dilakukan benar,” tuturnya.
PT CWE juga menekankan pentingnya efek domino dari pelatihan ini. Harapannya, para peserta dapat menjadi agen perubahan di komunitas masing-masing dengan menularkan ilmu yang diperoleh kepada petani lain.
Melalui kegiatan ini, pemerintah dan mitra berharap mampu membangun ekosistem sawit rakyat yang lebih produktif, berkelanjutan, dan sejahtera. Sebuah langkah strategis dalam menjawab tantangan sektor perkebunan sekaligus memperkuat fondasi ketahanan energi dan pangan nasional. (T2)
