InfoSAWIT, MEDAN — Bank Riau Kepri (BRK) Syariah terus memperkuat perannya dalam mendukung pengembangan sektor kelapa sawit rakyat di Provinsi Riau. Salah satu wujud nyata dari komitmen ini adalah pelaksanaan lokakarya yang difokuskan pada pengelolaan dan percepatan distribusi dana Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Acara yang digelar di Ballroom Santika Premier Dyandra Hotel & Convention, Medan, Jumat, diikuti oleh 25 pengurus Koperasi Unit Desa (KUD) dan kelompok tani (Poktan) mitra BRK Syariah. Mereka merupakan mitra strategis yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam pertumbuhan bisnis bank syariah milik daerah tersebut.
Lokakarya ini diselenggarakan oleh Divisi Mikro, Kecil, dan Menengah (MKM) BRK Syariah, bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas para mitra dalam memahami proses penyediaan bibit, tata kelola kebun, serta prosedur pengajuan dana PSR.
BACA JUGA: Menteri P2MI Tinjau Langsung Kondisi PMI di Perkebunan Sawit Malaysia
Kepala Bagian Penelitian PPKS Medan, Hernawan Yuli Rahmadi, menyampaikan apresiasi atas inisiatif BRK Syariah dalam mengedukasi mitranya. Ia menekankan bahwa kelapa sawit adalah tanaman produktif yang sangat cocok untuk wilayah Sumatera, termasuk Riau dan Sumatera Utara. Namun, keberhasilan kebun rakyat tetap bergantung pada pengetahuan teknis petani, mulai dari pemupukan hingga pengelolaan lahan.
“Potensi sawit sangat besar, tapi tanpa pengetahuan teknis, hasilnya tak akan optimal. Kegiatan seperti ini penting agar petani siap menjawab tantangan,” ujar Hernawan dilansir InfoSAWIT dari laman kabarsdgs, Senin (26/5/2025).
Sementara itu, Pemimpin Divisi MKM BRK Syariah, M. Jazuli, menyatakan bahwa pendampingan terhadap KUD dan Poktan menjadi bagian dari misi bank dalam memperkuat sektor UMKM, termasuk pelaku usaha mikro di sektor perkebunan.
“Kami memiliki tanggung jawab untuk terus mendorong kemajuan UMKM, termasuk petani sawit. Dalam BRK Syariah, kategori usaha mikro hingga menengah mencakup pembiayaan hingga Rp1,5 miliar,” jelas Jazuli.
Ia juga menyampaikan bahwa pada semester kedua tahun ini, BRK Syariah akan menjalin kemitraan lebih luas dalam mengembangkan produk-produk turunan kelapa sawit berbasis teknologi finansial. “Kami ingin menjadikan kelapa sawit bukan hanya sebagai komoditas mentah, tetapi juga sebagai sumber inovasi bernilai tambah,” katanya. (T2)
