Lebih lanjut, Siemens juga dilibatkan dalam proses penyusunan sistem, mulai dari sisi hardware hingga humanware, guna menciptakan platform digital yang terintegrasi dan berkelanjutan. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat mempercepat implementasi Siprosatu dan memperkuat digitalisasi industri agro secara keseluruhan.
Putu menegaskan, bila sistem ini berjalan optimal, bukan hanya aspek pengawasan yang akan meningkat, tetapi juga produktivitas dan daya saing industri sawit hilir di pasar global. Hal ini sejalan dengan peran strategis industri agro dalam perekonomian nasional.
Pada triwulan I tahun 2025, sektor industri agro mencatatkan pertumbuhan 4,69 persen dengan total investasi mencapai Rp38,72 triliun. Angka ini terdiri atas Rp21,33 triliun dari penanaman modal asing dan Rp17,39 triliun dari penanaman modal dalam negeri.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Tak Lagi Berat Sebelah, Pemprov Sumbar Siapkan Regulasi Lindungi Petani
Tak hanya itu, industri agro juga menyumbang hingga 52,17 persen terhadap PDB industri non-migas dan menyerap tenaga kerja sebanyak 9,37 juta orang.
“Angka-angka ini memperlihatkan betapa pentingnya industri agro, khususnya pengolahan sawit, sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di Indonesia,” pungkas Putu.
Dengan dukungan teknologi dan kolaborasi multisektor, Kemenperin yakin transformasi digital akan membawa industri sawit Indonesia ke level baru—lebih transparan, berkelanjutan, dan kompetitif di kancah global. (T2)
