InfoSAWIT, BANDA ACEH — Bukan sekadar pelatihan teknis biasa, program Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training di Banda Aceh ini menjadi tonggak penting dalam membentuk karakter petani sawit masa depan: profesional, adaptif, dan berpikir jangka panjang.
Selama lima hari, sejak 21 hingga 25 Juni 2025, sebanyak 88 peserta dari dua kabupaten penghasil sawit utama di Aceh — Aceh Tamiang dan Aceh Timur — tidak hanya belajar teori, tetapi juga menyelami filosofi baru dalam mengelola kebun. Di ruang pelatihan Hotel Grand Nanggroe, para peserta diajak memahami apa yang disebut “tujuh tas” oleh tim pengajar IPB Training.
‘Tujuh Tas’: Bukan Perlengkapan, Tapi Pilar Keberhasilan Petani
“Tujuh tas” bukan sekadar istilah, tapi simbol dari tujuh aspek krusial yang harus dibawa pulang oleh setiap petani sawit: Legalitas, Produktivitas, Kualitas, Kontinuitas, Sustainabilitas, Traceability, dan Profitabilitas.
“Kalau Bapak-Ibu mengelola kebun sawit dengan benar, bukan cuma satu manfaat yang didapat, tapi tujuh sekaligus,” tegas Dr. Hariyadi, MS dari IPB Training dalam pernyataan resmi ditulis InfoSAWIT, Kamis (26/6/2025).
Ia menambahkan bahwa saat ini kelapa sawit bukan lagi sekadar tanaman perkebunan, melainkan komoditas strategis yang menyumbang lebih dari Rp600 triliun devisa nasional per tahun — melampaui sektor migas.
Salah satu nilai tambah dari pelatihan ini adalah pendekatan “belajar sambil melihat langsung.” Pada hari keempat, peserta melakukan kunjungan lapang ke PT Agro Sinergi Nusantara. Di kebun tersebut, para petani dibagi dalam kelompok kecil untuk menyambangi tiga lokasi penting: area pembibitan, tanaman belum menghasilkan (TBM), dan tanaman menghasilkan (TM).
Dengan dipandu tim agronomis perusahaan, peserta mempelajari secara langsung pemilihan bibit unggul, teknik pemupukan, strategi pengendalian hama, hingga cara panen yang efisien dan aman. Antusiasme terlihat tinggi, tercermin dari diskusi hangat dan beragam pertanyaan selama kunjungan.
“Saya jadi lebih paham bagaimana pola rawat yang benar untuk TBM agar nanti hasilnya maksimal. Ini jauh berbeda dengan kebiasaan kami di kampung,” ujar salah satu peserta dari Aceh Timur.
