Sementara itu, temuan ini sudah dilaporkan ke otoritas berwenang untuk ditelusuri lebih lanjut. Polisi diperkirakan akan menelusuri sumber uang palsu tersebut, terutama mengingat peredarannya menyasar transaksi sawit yang cukup aktif di wilayah Seruyan dan Kobar.
Kejadian ini menyoroti pentingnya edukasi kepada masyarakat, terutama petani dan pelaku usaha kecil, agar lebih waspada terhadap uang palsu. Pemeriksaan sederhana, seperti mengenali ciri-ciri uang asli dan menggunakan alat deteksi, perlu disosialisasikan secara masif di sentra-sentra perdagangan hasil bumi.
“Harus ada kerja sama antara Bank Indonesia, aparat kepolisian, dan dinas terkait untuk menurunkan risiko ini. Kalau tidak, petani bisa terus menjadi korban,” kata seorang pengamat ekonomi daerah yang enggan disebut namanya.
BACA JUGA: MSPO pun Diakui Internasional, Malaysia Gaet Pengakuan Eropa Utara
Program digitalisasi transaksi pertanian dan peralihan ke sistem pembayaran non-tunai juga disebut sebagai solusi jangka panjang. Namun, tantangan infrastruktur dan literasi digital di pedesaan masih menjadi kendala besar. (T2)
