Pada pertengahan Juni lalu, PT Agrinas Palma Nusantara menyerahkan bantuan ternak sapi kepada sejumlah kelompok tani. Suratmi belum kebagian. Bukan karena tak butuh, tapi karena ia tak tahu ke mana harus bertanya.
“Kemarin sempat mau tanya, tapi katanya hanya untuk kelompok tani,” ujarnya pelan. “Saya bukan kelompok tani. Suami juga cuma kerja jaga malam, bukan pemanen.”
Ia tak tampak kecewa, hanya berharap. Cukup dua atau tiga ekor tambahan, katanya, untuk menambah modal hidup. “Kalau bisa, saya pelihara. Yang penting ada aktivitas,” ujarnya.
BACA JUGA: Satreskrim Inhu Tangkap Pelaku Karhutla Berkat Aplikasi DLK, Terbakar Demi Sawit
Suratmi menyadari bahwa lahan tempat ia menggembala dulu dikuasai segelintir orang. Kini tanah itu terbuka bagi banyak warga. Ia percaya, jika negara hadir melalui perusahaan seperti Agrinas, maka keadilan harus menjangkau juga para peternak kecil sepertinya.
Menjelang senja, sapi-sapi pulang sendiri. Suratmi menyambut mereka di bawah batang sawit. Dengan tambang di tangan, ia menuntun hewan-hewan itu satu per satu, penuh kesabaran. Hidup baginya seperti menggiring sapi—tenang, tapi terus bergerak ke depan.
Ia bukan satu-satunya. Ada banyak warga seperti Suratmi di sekitar kebun sawit yang mengikat harap pada PT Agrinas Palma Nusantara. Harapan tentang tanah yang memberi kesempatan, bukan hanya bagi pohon sawit, tapi juga bagi manusia yang tinggal di sekitarnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 4 –10 Juli 2025 Turun Tipis
Agrinas Palma Nusantara tak sekadar mengelola aset negara. Di mata masyarakat, perusahaan ini adalah penghubung antara tanah dan masa depan. Dan di tengah barisan sawit dan sapi, harapan itu perlahan tumbuh—dituntun oleh tangan-tangan sederhana seperti milik Suratmi. (T2)
