InfoSAWIT, BANDUNG — Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung kembali mencatatkan prestasi membanggakan di kancah nasional. Tim mahasiswa Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, berhasil menjadi salah satu dari 40 pemenang Lomba Riset Sawit Nasional 2025 berkat inovasi pengendalian penyakit Ganoderma boninense — patogen penyebab busuk pangkal batang yang menjadi ancaman utama bagi kelapa sawit Indonesia.
Tim ini digawangi oleh Raysha Trythatya Nurhaidha bersama tiga rekannya: Nursyafira Asma Humaira, Ratmanuha Putri Mulyawan, dan Silmi Aulia Putri. Dalam penelitiannya, mereka menggabungkan pendekatan in vitro (uji laboratorium) dan in silico (simulasi berbasis komputer) untuk mengidentifikasi agen hayati yang mampu menekan perkembangan Ganoderma secara efektif dan ramah lingkungan.
“Inovasi ini lahir dari keprihatinan kami terhadap dampak besar Ganoderma pada produktivitas sawit nasional. Lewat pendekatan ilmiah, kami berharap dapat memberikan solusi berkelanjutan yang dapat langsung diterapkan di lapangan,” ujar Raysha dilansir InfoSAWIT dari UIN Sunan Gunung Djati, Selasa (5/8/2025).
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode II-Juli 2025 Naik Rp115,4 per Kg
Riset mereka didampingi oleh dosen pembimbing Musa’adah, S.Si., M.Biotech., yang sejak awal tahun telah mendukung penuh proses penyusunan proposal dan pendampingan selama tahapan seleksi berlangsung. Kompetisi ini digelar sejak Maret 2025 dan melalui proses penilaian ketat, tim UIN Bandung akhirnya diumumkan sebagai salah satu pemenang pada Juli lalu.
Keberhasilan ini menjadi tonggak penting bagi UIN SGD Bandung. Tak hanya mengukuhkan eksistensi kampus di ranah riset nasional, pencapaian ini juga memperlihatkan kontribusi nyata lembaga pendidikan Islam dalam mendukung transformasi industri sawit menuju praktik yang lebih berkelanjutan.
Sebagai bentuk apresiasi, tim terpilih akan mendapatkan dukungan untuk melanjutkan riset mereka selama delapan bulan, dari Agustus 2025 hingga April 2026. Fase lanjutan ini akan difokuskan pada uji efektivitas agen hayati serta penyusunan strategi implementasi yang bisa diadaptasi oleh petani dan pelaku industri sawit.
BACA JUGA: Produk Ekspor RI Bebas Tarif di Pasar Eropa, IEU-CEPA Siap Diberlakukan
Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia terus dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk masalah penyakit tanaman seperti Ganoderma yang menyebabkan kerugian miliaran rupiah setiap tahunnya. Oleh karena itu, kompetisi ini menjadi wadah penting dalam menjaring ide-ide segar dari generasi muda untuk menjawab tantangan nyata sektor agrikultur.
Temuan tim UIN Bandung membawa harapan baru dalam perang panjang melawan Ganoderma. Lebih dari sekadar kemenangan akademik, pencapaian ini membuktikan bahwa inovasi bisa tumbuh dari mana saja — bahkan dari ruang laboratorium sederhana di kaki Gunung Manglayang, tempat semangat dan dedikasi ilmiah terus menyala. (T2)
