InfoSAWIT, PADANG — Universitas Andalas (UNAND) kembali menegaskan peran aktif dunia akademik dalam mendorong pengelolaan industri kelapa sawit yang lebih berkelanjutan. Melalui Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH), UNAND menjadi tuan rumah penyelenggaraan Seminar Nasional bertajuk “Pengelolaan Industri Sawit Secara Berkelanjutan”, yang berlangsung di The ZHM Premiere Hotel, Padang, sebagai bagian dari rangkaian Konferensi dan Rapat Kerja Nasional Badan Kerja Sama Pusat Studi Lingkungan (BKPSL) serta Pertemuan Forum Pimpinan Pascasarjana (Forpimpas) Wilayah Barat.
Seminar ini mempertemukan para pemangku kepentingan dari berbagai sektor: akademisi, pemerintah, hingga pelaku industri. Hadir di antaranya Ketua Forpimpas Wilayah Barat, Prof. Aan Asphianto, Ketua BKPSL Prof. Anwar Daud, dan Rektor UNAND yang diwakili oleh Prof. Apt. Henny Lucida, Ph.D.
Pemerintah pusat turut memberi perhatian melalui kehadiran Nur Adi Wardoyo, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) yang mewakili Menteri LH/Kepala BPLH RI. Sementara dari pemerintah daerah, Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat, Febrina Trisusila Putri, hadir mewakili Gubernur.
BACA JUGA: Stok Minyak Sawit Malaysia Diprediksi Tertinggi dalam Dua Tahun Terakhir pada Juli 2025
Dilansir InfoSAWIT dari laman Unand, Selasa (5/8/2025), dalam paparannya, Nur Adi Wardoyo menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan sektor strategis bagi perekonomian Indonesia. “Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memberi kontribusi besar dalam bentuk devisa, penciptaan lapangan kerja, dan pembangunan daerah,” ujarnya. Ia mencatat, ekspor lemak dan minyak nabati — termasuk sawit — telah mencapai angka fantastis, yakni 14,43 miliar dolar AS.
Namun, di balik prestasi tersebut, tantangan besar juga mengintai. Ia menyoroti persoalan deforestasi, rusaknya keanekaragaman hayati, hingga konflik lahan dan pencemaran akibat limbah industri. “Perluasan lahan sawit yang tidak terkendali, pembakaran hutan, serta sengketa dengan masyarakat lokal perlu diselesaikan lewat pendekatan berkelanjutan,” tegas Nur Adi.
Sebagai solusi, ia mendorong penerapan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab, pelestarian kawasan hutan, dan penguatan program kehutanan sosial. Menurutnya, lembaga pendidikan tinggi memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat inovasi dan edukasi keberlanjutan di Indonesia.
BACA JUGA: Reformasi Tata Kelola Kawasan Hutan Perlu Hukum yang Menyeluruh dan Berkeadilan
Senada dengan itu, Prof. Apt. Henny Lucida menyampaikan apresiasinya atas sinergi yang terbangun dalam forum ini. Ia menilai, keterlibatan lintas sektor mulai dari kementerian, pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga kalangan akademisi, adalah fondasi penting dalam membangun ekosistem industri sawit yang ramah lingkungan.
“Kami optimistis bahwa limbah industri sawit dapat diolah menjadi sumber energi terbarukan yang mampu menggantikan bahan bakar fosil. Seminar ini bukan hanya ajang bertukar gagasan, tetapi juga menjadi ruang untuk menciptakan solusi nyata bagi keberlanjutan lingkungan hidup di Indonesia dan dunia,” pungkasnya. (T2)
