InfoSAWIT, JAKARTA – Di balik kilau industri sawit yang kerap diterpa kritik, ada kisah tentang cara lain menjaga keberlanjutan. PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA), salah satu pemain besar di sektor ini, memilih jalur yang tidak banyak diketahui publik: diplomasi senyap.
“Setiap titik api, walau kecil, kami laporkan ke kepolisian. Supaya semua tertib dan bisa dilacak,” ujar Johan Sukardi, Corporate Affair Director BGA, saat berbincang dengan InfoSAWIT. Transparansi, baginya, bukan pilihan, melainkan kewajiban.
Musim kemarau selalu menjadi ujian berat. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kerap muncul, bahkan di luar konsesi perusahaan. Namun dampaknya tetap menghantam: udara penuh asap, produktivitas terganggu, dan citra perusahaan terancam.
BACA JUGA: Topaz GT, Benih Sawit Unggul Toleran Ganoderma dan Hasilkan 40 Ton TBS per Hektare
BGA tidak menunggu masalah membesar. Mereka membentuk tim pemadam kebakaran internal, menggandeng Manggala Agni, serta melatih warga desa. Bahkan, desa-desa siaga api didirikan untuk memperkuat pertahanan dari bawah.
“Kalau masyarakat ikut menjaga, respon lebih cepat. Apalagi kalau ada insentif yang membuat mereka merasa bagian dari solusi,” terang Johan.
Konservasi Hutan Desa
Langkah BGA tidak berhenti pada pemadaman api. Salah satu program yang kini mendapat pengakuan lembaga sertifikasi internasional adalah konservasi hutan desa. Bersama masyarakat, perusahaan mengelola kawasan hutan dengan model kolaboratif.
Masyarakat tidak hanya diajak menjaga, tapi juga diberi ruang untuk mendapatkan manfaat ekonomi. Insentif, pelatihan, hingga pendampingan ekowisata kecil-kecilan menjadi pintu masuk. “Kalau ada nilai ekonomi, hutan bukan lagi beban, tapi aset yang harus dipertahankan,” kata Johan.
BACA JUGA: Di Balik 1 Juta Hektare Sawit Sitaan, POPSI Tawarkan Skema Keadilan Bagi Petani
Strategi ini memang jauh dari sorotan. Tidak ada seremoni besar, tidak ada kampanye komunikasi yang heboh. Johan menyebutnya “diplomasi senyap”.
Tanpa gemerlap media, dampaknya justru terasa lebih kuat. Konflik sosial di sekitar perusahaan menurun, hubungan dengan masyarakat membaik, dan produktivitas meningkat.
“Kami bukan LSM. Tapi kami tahu, tanpa kepercayaan masyarakat, kita tidak akan bertahan,” ujar Johan menegaskan. Baginya, keberlanjutan tidak bisa dibangun dengan program jangka pendek. “Kalau perusahaan mau hidup 50 tahun ke depan, maka kita harus hidup bersama mereka hari ini.”
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 3-9 September 2025 Turun Tipis
Pendekatan seperti ini menunjukkan wajah lain dari industri sawit. Bahwa keberlanjutan bukan sekadar slogan, melainkan kerja nyata di lapangan. Dari siaga api hingga ekowisata desa, diplomasi senyap BGA menjadi bukti bahwa perusahaan dan masyarakat bisa berjalan beriringan. (T2)
Sumber: Majalah InfoSAWIT Edisi Juni 2025
