InfoSAWIT, KALIMANTAN BARAT – Upaya menjaga hutan sembari meningkatkan kesejahteraan masyarakat kini mendapat bentuk nyata di dua desa binaan Bumitama di Kalimantan Barat. Melalui pengembangan ekowisata, Desa Simpang Tiga Sembelangaan dan Desa Nibung menunjukkan bagaimana konservasi dapat berjalan seiring dengan bertumbuhnya ekonomi lokal.
Di Simpang Tiga Sembelangaan, masyarakat mengelola kawasan Air Terjun Batu Hitam melalui Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD). Sejak 2021, Bumitama mendampingi berbagai aspek pengembangan kawasan ini—mulai dari pelatihan pengelolaan, pembangunan infrastruktur dasar, hingga penanaman pohon buah untuk memperkaya lanskap wisata.
Perbaikan akses jalan, penataan area rekreasi, dan penyediaan fasilitas pendukung terbukti meningkatkan kenyamanan pengunjung. Lebih jauh, perubahan ini turut membuka ruang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi baru di desa.
BACA JUGA: IPOC 2025: Dorab Mistry Prediksi Harga Sawit Tembus 5.500 Ringgit
“Dukungan Bumitama membantu kami memperbaiki fasilitas dan membuat kawasan ini lebih tertata,” ujar Sony Martinus, anggota LPHD dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Sabtu (15/11/2025). “Kami ingin Batu Hitam menjadi kebanggaan desa sekaligus menjaga hutan agar tetap lestari.”
Selain menjadi destinasi rekreasi, Batu Hitam juga dimanfaatkan sebagai ruang edukasi lingkungan. LPHD tengah mengeksplorasi potensi energi mikrohidro dari aliran sungai untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di masa mendatang—sebuah langkah yang memperkuat fungsi hutan sebagai aset jangka panjang.
Nibung Lestari: Dari Kenangan Kelam ke Gerakan Konservasi
Tak jauh dari sana, Desa Nibung juga bergerak membangun masa depan berbasis pelestarian. Melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Nibung Lestari, warga mengembangkan kawasan air terjun di Dusun Sebuak menjadi destinasi agrowisata. Inisiatif yang lahir pada 2022 ini berangkat dari keinginan kuat untuk mencegah perambahan hutan desa.
Ketua KUPS, Marsila, mengingat jelas peristiwa kebakaran hebat tahun 2005 yang menghanguskan sebagian besar hutan sekitar. “Sejak itu, saya berjanji tidak akan membiarkan hutan ini rusak lagi. Tapi melarang saja tidak cukup, kami perlu cara agar warga bisa ikut menjaga dengan rasa memiliki,” tuturnya.
Melalui dukungan Bumitama dan IDH, KUPS membangun jalur trekking, gazebo, loket tiket, serta area istirahat pengunjung. Hasilnya, kawasan tersebut berkembang pesat dan mulai menarik wisatawan dari berbagai daerah.
Dampaknya pun terasa langsung. Dalam kurun April 2024 hingga Juni 2025, pemasukan dari tiket wisata menembus sekitar Rp95 juta. Pendapatan itu tidak hanya menjadi sumber ekonomi baru, tetapi juga dimanfaatkan untuk kegiatan sosial dan pemeliharaan kawasan. “Sekarang kami melihat hutan sebagai peluang. Wisata ini membuat kami lebih peduli dan bangga menjaga lingkungan,” ujar Marsila.
BACA JUGA: IPOC 2025: Kementan Gaspol Hilirisasi Sawit, Target Produksi 100 Juta Ton di 2045
Ke depan, masyarakat Nibung berambisi menambah daya tarik dengan membangun kebun petik buah. Konsep ini diharapkan memberi pengalaman edukatif sekaligus memperkenalkan potensi tanaman lokal. “Kami menyebutnya agrowisata karena ingin suatu saat ada kebun yang bisa dikunjungi dan dinikmati bersama,” kata Marsila.
Model Kolaborasi yang Perkuat Konservasi
Inisiatif di Batu Hitam dan Nibung Lestari menjadi contoh bagaimana perusahaan dan masyarakat dapat bersinergi menjaga hutan sekaligus menggerakkan ekonomi desa. Bumitama menempatkan masyarakat sebagai aktor utama konservasi, sementara perusahaan berperan sebagai mitra melalui penyediaan infrastruktur, pelatihan, dan pendampingan teknis berkelanjutan.
Langkah ini sejalan dengan komitmen Bumitama dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan—yakni memastikan kawasan hutan dikelola dengan baik, masyarakat berdaya, dan ekonomi lokal terus tumbuh secara berkelanjutan.
BACA JUGA: IPOC 2025: Perbaiki Persepsi, Bangun Kepercayaan—Palm Oil Harus Menang dalam “Lomba Global” Reputasi
Dari hutan yang dijaga bersama, tumbuh harapan baru: desa yang berkembang, alam yang lestari, dan masyarakat yang semakin mandiri. (T2)
