InfoSAWIT, JAKARTA — Di tengah posisinya sebagai negara dengan kebun kelapa sawit terluas di dunia, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam hal produktivitas. Luas areal perkebunan kelapa sawit nasional saat ini mencapai 16,38 juta hektare, namun produktivitas tandan buah segar (TBS) rata-rata baru sekitar 3,5 ton per hektare — jauh di bawah capaian Malaysia.
“Dari luas tersebut, produksi CPO tahun 2025 diperkirakan mencapai 48 juta ton. Pemerintah menargetkan angka ini bisa naik menjadi 51 juta ton,” ujar Direktur Tanaman Sawit dan Aneka Palma Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Baginda Siagian, saat berbicara pada acara Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 and Ouotlook 2026, bertajuk “Navigating Complexity, Driving Growth: Governance, Biofuel Policy, and Global Trade”, dihadiri InfoSAWIT, di Nusa Dua, Bali, Kamis (13/11/2025).
Menurutnya, produktivitas tertinggi masih dipegang oleh perkebunan milik negara yang mampu mencapai 4,4 ton TBS per hektare. Sementara itu, perkebunan swasta mencatat 3,7 ton per hektare, dan kebun rakyat hanya 3,2 ton per hektare.
Selain menjadi penggerak utama ekspor, sektor sawit juga menjadi penyedia lapangan kerja terbesar di Indonesia. Tercatat sekitar 9,7 juta orang bekerja secara langsung di sektor ini, dan 7–8 juta orang lainnya bekerja secara tidak langsung. Kontribusi sawit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pun signifikan, yakni sekitar 3,5%.
Namun, Baginda mengingatkan bahwa tanpa intervensi nyata, produktivitas sawit nasional bisa stagnan. Berdasarkan skenario business as usual, produksi CPO pada tahun 2029 hanya akan mencapai 52 juta ton, dan pada 2045 sekitar 60 juta ton. Di sisi lain, kebutuhan domestik diperkirakan melonjak hingga 41 juta ton seiring pertumbuhan penduduk dan industri berbasis sawit di dalam negeri.
“Jika kondisi ini tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas, maka ekspor sawit kita akan tertekan karena sebagian besar produksi harus dialihkan untuk kebutuhan dalam negeri,” jelasnya.
BACA JUGA: IPOC 2025: Dorab Mistry Prediksi Harga Sawit Tembus 5.500 Ringgit
Ia menuturkan, rendahnya produktivitas sawit disebabkan oleh sejumlah faktor, mulai dari penggunaan benih tidak bersertifikasi, penerapan good agricultural practices (GAP) yang belum optimal, hingga serangan hama ganoderma. Selain itu, banyak tanaman sawit yang telah berusia tua dan perlu segera diremajakan.
Untuk mengatasi persoalan ini, Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong berbagai program peningkatan produktivitas dan keberlanjutan industri sawit nasional. Program tersebut mencakup penerapan sertifikasi ISPO, pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta peningkatan sarana dan prasarana perkebunan.
“Pengembangan SDM menjadi salah satu fokus utama. Kami telah memberikan beasiswa kepada 10.680 mahasiswa, melatih 22.970 orang, serta mendukung riset sebanyak 3.879 studi. Selain itu, telah disalurkan 159 paket sarana dan prasarana pendukung,” terang Baginda.
BACA JUGA: IPOC 2025: Perbaiki Persepsi, Bangun Kepercayaan—Palm Oil Harus Menang dalam “Lomba Global” Reputasi
Ia menegaskan, keberlanjutan industri sawit tidak hanya penting untuk menjaga kinerja ekspor, tetapi juga sebagai penopang utama perekonomian nasional, penyedia lapangan kerja, dan pemenuhan kebutuhan pangan global.
“Ke depan, peremajaan tanaman, penerapan praktik budidaya terbaik, dan penguatan SDM harus berjalan seiring. Tanpa itu, produktivitas sawit nasional akan terus menurun hingga tahun 2045,” pungkasnya. (T2)
