InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Momentum ekspor dan efisiensi biaya jadi penopang utama, harga CPO diproyeksikan tetap stabil sepanjang paruh kedua 2025, bertahan di kisaran RM4.000 hingga RM4.300 per ton.
Harga minyak sawit mentah (CPO) Malaysia diproyeksikan tetap stabil sepanjang paruh kedua 2025, bertahan di kisaran RM4.000 hingga RM4.300 per ton. Proyeksi ini datang di tengah momentum ekspor yang membaik, tingkat stok yang memadai, dan sejumlah kebijakan yang dinilai dapat menekan biaya produksi.
Public Investment Bank Bhd, dalam laporan riset terbarunya, menyebutkan bahwa stok CPO Malaysia telah melampaui dua juta ton, memberikan penyangga yang solid bagi harga di pasar global. “Saat laporan ini ditulis, harga kontrak berjangka CPO berada di level RM4.330 per ton. Momentum ekspor, khususnya ke India, diperkirakan akan meningkat, didorong oleh selisih harga yang lebar antara minyak sawit dan minyak kedelai serta rendahnya stok dalam negeri India,” tulis Public Investment Bank dilansir dari The Edge Market.
Proyeksi harga rata-rata untuk sepanjang tahun ini tetap dipertahankan di level RM4.200 per ton.
Meski paruh pertama tahun ini diwarnai tekanan biaya produksi akibat kenaikan upah minimum dan harga pupuk, prospek semester kedua terlihat lebih positif. Public Investment Bank memperkirakan biaya akan turun berkat kenaikan produktivitas tandan buah segar (TBS) sawit dan tambahan pendapatan dari produk sampingan inti sawit.
“Kredit dari inti sawit diharapkan dapat meringankan beban biaya,” jelas laporan tersebut. Selain itu, mulai Oktober 2025, implementasi iuran wajib 2% ke Dana Provident (EPF) untuk pekerja asing diperkirakan dapat memangkas biaya tenaga kerja kurang dari 1%.
Faktor pendukung lain berasal dari sektor energi. Program biodiesel B40 di Indonesia diperkirakan tetap berada di jalur yang tepat, memberikan dukungan jangka panjang terhadap permintaan minyak sawit sebagai bahan baku biofuel.
Namun, Public Investment juga mengingatkan potensi risiko lingkungan. Meningkatnya titik panas di Sumatra dan Kalimantan berpotensi memicu kabut asap lintas batas jika musim kering berlanjut, yang dapat mengganggu logistik dan rantai pasok. (*)
