InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Konferensi Meja Bundar tahunan RSPO (RT2025) kembali digelar di Hotel Shangri-La Kuala Lumpur, Malaysia, pada 3–5 November 2025. Mengusung tema “Membangun 20 Tahun Mendatang: Keberlanjutan dalam Aksi,” forum internasional ini menjadi ruang strategis bagi pemangku kepentingan global untuk membahas arah masa depan industri minyak sawit berkelanjutan.
Di tengah rangkaian diskusi dan pertemuan tingkat tinggi, Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) memberikan perhatian khusus kepada para pembeli atau buyer kredit yang selama ini berperan penting dalam mendukung praktik keberlanjutan di tingkat petani swadaya. Apresiasi tersebut merupakan hasil kolaborasi antara FORTASBI, World Resources Institute (WRI), dan RSPO.
Enam Buyer Hadir Menerima Apresiasi
Total terdapat 10 lembaga yang menerima penghargaan, namun hanya enam di antaranya hadir langsung dalam sesi penyerahan pada 4 November 2025. Daftar penerima apresiasi meliputi:
BACA JUGA: Petani Sawit Swadaya Dorong Insentif Berkelanjutan, FORTASBI Minta Dukungan Pembeli Kredit RSPO
- Nestlé S.A.
- Unilever Asia Private Limited
- Kao Corporation
- AchieveNow B.V.
- Procter & Gamble
- SC Johnson and Son, Inc
- Clariant International Ltd
- McCormick & Company Incorporated
- Felleskøpet Agri SA
- PepsiCo
FORTASBI menegaskan bahwa penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan atas komitmen para pembeli global dalam mendukung kerja-kerja keberlanjutan petani sawit swadaya. Dukungan melalui skema kredit keberlanjutan dinilai memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kapasitas petani, penguatan sistem produksi, serta perbaikan tata kelola perkebunan.
“Para buyer ini bukan hanya membeli, tetapi ikut mendorong transformasi sawit rakyat menuju praktik yang lebih berkelanjutan,” ujar perwakilan FORTASBI dikutip InfoSAWIT, Jumat (21/11/2025).
BACA JUGA: Fortasbi: Keberlanjutan Sawit Harus Berjalan Bersama Petani
Dengan momentum RT2025, kolaborasi berkelanjutan antara petani swadaya, lembaga pendukung, dan pembeli global diharapkan semakin kuat, sekaligus menjadi fondasi bagi pengembangan industri sawit Indonesia yang lebih inklusif dan berstandar internasional. (T2)
