“Kami biasa pakai pendekatan petani melatih petani. Tapi untuk ISPO, trainer utamanya juga harus tersertifikasi. Mencari petani yang sudah ISPO dan siap jadi pelatih itu tidak mudah, apalagi di daerah,” kata Alwan.
Dari sisi pembiayaan, beban sertifikasi dan audit penilikan juga dinilai sangat berat bagi petani, khususnya yang berswadaya tanpa pendampingan lembaga atau NGO. Biaya pelatihan, audit, hingga pengurusan administrasi kerap menjadi penghalang utama.
“Petani yang tanpa pendampingan itu bebannya berat sekali. Kalau ada pendampingan dari NGO atau lembaga lain, bebannya bisa berkurang,” jelasnya.
BACA JUGA: MPOC Perkirakan Harga CPO Bergerak Terbatas pada Januari 2026, Stok Tinggi Menekan Pasar
Alwan juga menyingung pemanfaatan dana dukungan, baik dari dana bagi hasil (DBH) sawit maupun Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), yang dinilai belum optimal. Di sejumlah daerah, pemerintah daerah masih lebih memprioritaskan anggaran untuk infrastruktur dan program lain.
“Beberapa daerah sebenarnya sudah siap membiayai sertifikasi ISPO, tapi ketika kepala daerah berganti, semuanya kembali ke meja. Tidak jalan,” katanya.
Selain itu, proses pengajuan dana ke BPDP dinilai rumit bagi petani. Penyusunan proposal hingga pengisian data melalui aplikasi menjadi kendala tersendiri, terutama bagi petani yang tidak memiliki staf administrasi.
BACA JUGA: Integrasi Sawit–Sapi Dipertegas dalam FPKMS, Perusahaan Wajib Prioritaskan Bungkil Inti Sawit
“Kalau kelembagaannya kuat dan punya staf, itu lebih mudah. Tapi kalau 100 persen petani, mereka sambil bekerja di kebun sambil urus proposal, itu sangat kewalahan,” ujarnya.
Alwan menekankan, kolaborasi multipihak menjadi kunci agar sertifikasi ISPO benar-benar dapat diakses petani rakyat. Pendampingan berkelanjutan, penyederhanaan prosedur, serta optimalisasi dukungan pendanaan dinilai mutlak diperlukan.
“Tidak semua petani bisa mengakses pelatihan dan sertifikasi dengan mudah. Karena itu, kolaborasi pendampingan menjadi sangat penting agar sawit rakyat bisa benar-benar berkelanjutan,” pungkasnya. (T2)
