Dorongan meningkatkan produktivitas juga muncul di tengah pengetatan pasokan global. Indonesia, produsen sawit terbesar dunia, terus mengalihkan volume besar produksi ke program biodiesel B40 dan rencana B50, sekaligus memperketat penertiban kebun ilegal. Jika tren ini berlanjut, Bek-Nielsen memperingatkan potensi keketatan pasokan global dalam enam hingga sembilan bulan ke depan.
“Sepuluh tahun lalu, Indonesia mengonsumsi sekitar tujuh juta ton sawit. Kini angkanya bisa mencapai 24 juta ton, sebagian besar untuk biodiesel. Dinamika pasar berubah karena volume minyak nabati untuk ekspor tidak lagi sebesar dulu,” katanya.
Pada 2024, Indonesia dan Malaysia tercatat sebagai dua produsen sawit terbesar dunia dengan produksi masing-masing 48,16 juta ton dan 19,34 juta ton.
BACA JUGA: Firman Soebagyo Desak RI Agresif Lawan Kampanye Negatif Sawit di Dunia Internasional
Tantangan lain yang membayangi industri adalah kenaikan biaya input, terutama pupuk, suku cadang, dan logistik. Pengetatan aturan angkutan darat membuat kapasitas muatan berkurang dan memaksa penggunaan lebih banyak kendaraan untuk volume yang sama, sehingga biaya logistik melonjak.
Di tengah tekanan tersebut, MPOC menilai peningkatan produktivitas bukan sekadar pilihan strategis, melainkan prasyarat mutlak agar industri sawit Malaysia tetap kompetitif, berkelanjutan, dan relevan di pasar global. (T2)




















