Keputusan itu terbukti tepat. Tahun 1973, dunia menyaksikan booming CPO akibat embargo kedelai oleh Presiden AS Richard Nixon. Harga CPO melonjak hingga US$ 400 per ton. Perusahaan pun melakukan ekspansi besar-besaran ke Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.
Kepekaan Soedjai melihat peluang tak berhenti di hulu. Ia memikirkan nilai tambah. Tahun 1974, gagasan membangun pabrik minyak goreng sawit mulai dirintis—di saat minyak goreng nasional masih berbahan baku kelapa. Bekerja sama dengan peneliti Malaysia, akhirnya pada 1977 berdirilah pabrik minyak goreng Adolina.
Namun, mungkin warisan terbesarnya adalah program plasma. Sejak 1970, Soedjai merintis konsep ini dengan melibatkan pensiunan TNI AD di Sei Baleh, Sumatera Utara. Sekitar 200–300 kepala keluarga mengelola 500 hektare lahan. Program itu berkembang ke Sumatera Barat melalui OPHIR. “Program OPHIR adalah yang tersukses saat itu, dengan dukungan Bank Dunia dan pemerintah Jerman,” katanya, dengan nada bangga.
BACA JUGA: Harga Gandum Chicago Melemah Saat Dolar AS Menguat, Reli Mingguan Masih Terjaga
Kini, sang maestro telah berpulang. Namun gagasan, keteladanan, dan jejak langkahnya tetap hidup di hamparan kebun sawit Nusantara—di setiap petani plasma, di setiap pabrik, dan di setiap generasi yang ia ajarkan untuk selalu menatap ke depan. (T2)
