InfoSAWIT, JAKARTA — Minggu pagi, 1 Februari 2026, industri kelapa sawit Indonesia terbangun dengan kabar duka. Seorang tokoh yang sepanjang hidupnya mendedikasikan pikiran, tenaga, dan nurani untuk agribisnis nasional berpulang. Soedjai Kartasasmita, maestro komoditas sawit itu, menutup mata di usia 99 tahun.
Bagi InfoSAWIT, nama Soedjai bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah sosok yang pernah kami temui, berbincang, dan menyimak pandangannya sejak awal 2009—saat InfoSAWIT awal merintis sebagai pionir media di sektor sawit. Dari pertemuan-pertemuan itulah, kami mengenal Soedjai sebagai pribadi yang tenang, tajam, dan selalu menatap ke depan.
Lahir di Cipari, Cilacap, sembilan dekade silam, Soedjai tumbuh bersama denyut perkebunan Nusantara. Pengalamannya melintasi beragam komoditas—karet, teh, hingga kelapa sawit—membuat pengetahuannya tak bisa dipandang sebelah mata. Terlebih, ia dikenal sebagai perintis program perkebunan plasma kelapa sawit, sebuah gagasan yang kelak mengubah wajah hubungan perusahaan dan petani.
BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Rayakan HUT Pertama Bersama Warga Kuansing, Gelar Aksi Sosial
Usia tak pernah menjadi alasan baginya untuk tertinggal informasi. Setiap pagi, rutinitasnya sederhana namun disiplin: membaca surat kabar, menelisik harga CPO, kakao, dan karet. Kebiasaan itu sejalan dengan filosofi hidup yang selalu ia pegang teguh.
“Pada dasarnya setiap orang harus melihat ke depan dan jangan melihat ke belakang. Artinya kita harus membaharui pengetahuan dan mengikuti perkembangan,” tuturnya kepada InfoSAWIT kala itu.
Dengan pengalaman panjang dan keluasan wawasan, Soedjai kerap dipercaya memimpin organisasi maupun perusahaan. Namanya dikenal luas, dari kalangan birokrat, peneliti, hingga pengusaha dalam dan luar negeri. Namun, di balik reputasi itu, ia menyimpan kegelisahan mendalam terhadap dunia pendidikan. “Pendidikan di zaman Belanda lebih baik daripada sekarang,” ucapnya lugas.
BACA JUGA: Peran Sawit Makin Strategis di Era Transisi Energi, Pakar Minta Status Nasional Diperkuat
Soedjai merupakan lulusan Sekolah Pertanian Menengah Tinggi Malang (1947) dan Middlebare Landbouw School Bogor (1949). Ia meyakini keberhasilannya tak lepas dari sistem pendidikan kolonial yang menanamkan pelajaran karakter. Dari sanalah ia belajar membangun komunikasi dan jaringan. “Dengan komunikasi dan jaringan, saya bisa mengenal pimpinan perusahaan besar asing,” katanya.
Kariernya dimulai pada 1950 di perusahaan perkebunan karet milik Belanda, Tiedeman & van Kerchem, di Miramare, Garut. Selama empat tahun, ia menjabat Asisten Senior Kebun—satu-satunya orang Indonesia di posisi tersebut. Di sana, ia bukan hanya belajar teknis perkebunan, tetapi juga memahami karakter orang Belanda. “Saya mempelajari kelemahan mereka, sehingga bisa bergaul dengan mereka,” kenangnya.
Situasi keamanan akibat pemberontakan DI/TII memaksanya hijrah ke Sumatera. Tahun 1955, ia bekerja di perkebunan teh Marjandi milik Bank Industri Negara di Pematang Siantar sebagai Wakil Administratur. Di wilayah yang kala itu dikenal sebagai sentra teh terbesar, Soedjai kembali menyelami ilmu budidaya. “Saya mulai mendalami ilmu budidaya teh,” ujarnya.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO Februari Menguat, BK dan Pungutan Ekspor Ikut Terkerek
Pasca-kemerdekaan, nasionalisasi perusahaan perkebunan Belanda mengubah peta industri. Tempat Soedjai bekerja menjadi Perusahaan Perkebunan Nasional (PPN) Aneka Tanaman VII. Kariernya menanjak, hingga pada 1957 ia menjabat Administratur. Kerja kerasnya berbuah kepercayaan: tahun 1964 menjadi Direktur Produksi PP Dwikora III Medan, setahun kemudian Direktur PP Dwikora II Medan, dan pada 1968, atas permintaan Menteri Pertanian, ia ditunjuk sebagai Direktur Utama PNP/PTP VI.
Dari sinilah perjalanannya dengan kelapa sawit benar-benar dimulai. Saat itu, sawit masih tergolong komoditas langka—masyarakat lebih memilih menanam karet dan teh. Langkah pertama Soedjai adalah membenahi sumber daya manusia. Ia menggandeng pakar dan peneliti sawit dari Malaysia untuk menyusun program serta pelatihan bagi karyawan.
Tak berhenti di situ, Soedjai juga mempelajari dinamika pasar karet dan sawit. Ketika harga CPO jatuh ke kisaran US$ 80 per ton pada 1968, ia memilih bergerak. Tahun 1969, delegasi dikirim ke Eropa dan Amerika Serikat untuk mencari pembeli baru. “Jika tidak, akan terjadi penimbunan minyak sawit besar-besaran,” ungkapnya.
