InfoSAWIT, JAKARTA — Indonesia telah lama menempati posisi strategis dalam perdagangan kelapa sawit dunia. Peran ini tidak semata ditentukan oleh besarnya volume produksi, tetapi juga oleh pengaruh Indonesia dalam membentuk arah pasokan dan dinamika pasar minyak nabati global. Benang merah tersebut mengemuka dalam forum Prasasti Insight: Reshaping Indonesia’s Palm Oil Foundations in an Era of Climate Risk and Governance Standards.
Dalam forum tersebut, anggota Board of Trustees Prasasti Center for Policy Studies, Fuad Bawazier, menegaskan bahwa industri kelapa sawit memiliki bobot signifikan dalam perekonomian global. Dengan pangsa produksi sekitar 58,7% dari total produksi dunia, sektor sawit menjadi salah satu tulang punggung devisa ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai US$ 36,1 miliar per tahun.
“Saat ini Indonesia menguasai hampir 59% produksi sawit global. Artinya, dinamika industri sawit nasional akan sangat menentukan arah pasar dunia,” ujar Fuad dalam keterangan pers, Jumat (6/2/2026).
BACA JUGA: India Pasang Rem Dagang Pertanian dengan AS, Kedelai dan Jagung Dikecualikan
Keunggulan Indonesia sebagai produsen utama tidak terlepas dari faktor alam. Akademisi kelapa sawit, Witjaksana Darmosarkoro menjelaskan bahwa secara agroklimat, kelapa sawit tumbuh lebih optimal di Indonesia dibandingkan banyak negara lain, bahkan dibandingkan negara asal tanaman tersebut. Kondisi ini menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai produsen terbesar, tetapi juga konsumen utama minyak sawit dunia.
“Ini keunggulan alami yang tidak dimiliki semua negara,” kata Witjaksana, seraya mengingatkan bahwa Indonesia tetap bersaing dengan produsen besar lain seperti Malaysia dan Brasil.
Dominasi Indonesia juga tercermin dalam peta perdagangan global. Melalui keanggotaan di Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Indonesia bersama Malaysia menguasai sekitar 84% pasokan kelapa sawit dunia. Fakta ini menegaskan peran sentral kedua negara dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga sawit global.
BACA JUGA: 4 Juta Hektare Kawasan Konservasi Diduduki Sawit Ilegal, Pemerintah Siapkan 70 Ribu Polisi Hutan
Dari sisi ekspor, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono mengungkapkan bahwa produk sawit Indonesia telah menjangkau lebih dari 160 negara. Tujuan utama ekspor antara lain China, India, negara-negara Afrika, Uni Eropa, Pakistan, hingga Amerika Serikat.
“Permintaan yang terus meningkat, baik domestik maupun global, menunjukkan bahwa minyak sawit masih merupakan komoditas strategis yang sulit tergantikan,” ujarnya.
Penggunaan Lahan Lebih Efisien
Selain unggul dari sisi volume dan jangkauan pasar, minyak sawit juga memiliki kelebihan struktural dibandingkan minyak nabati lain. Produktivitasnya yang tinggi membuat sawit jauh lebih efisien dari sisi penggunaan lahan. Kondisi ini membuka ruang besar bagi pengembangan industri hilir, mulai dari produk oleokimia, pangan olahan, hingga energi terbarukan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 6-12 Februari 2026 Naik Rp. 51,5 per Kg
Meski demikian, di balik dominasi global tersebut, industri sawit nasional masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar. Witjaksana menyoroti persoalan di tingkat hulu, terutama pada perkebunan rakyat. Produktivitas petani sawit dinilai masih rendah akibat penggunaan bibit yang kurang berkualitas, mutu buah panen yang belum optimal, serta masih minimnya kebun yang tersertifikasi.
“Ini menjadi isu krusial jika Indonesia ingin tetap kompetitif di tengah tuntutan standar global yang semakin ketat,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Mukti Sardjono. Ia menilai bahwa secara nasional, produksi dan produktivitas sawit cenderung menurun, sementara tantangan hilirisasi dan penciptaan nilai tambah masih besar. Persoalan legalitas lahan juga menjadi pekerjaan rumah serius, dengan sekitar 4,5 juta hektare kebun sawit teridentifikasi berada di kawasan hutan.
