InfoSAWIT, YOGYAKARTA – Sebanyak 23 mahasiswa mengikuti pelatihan membatik di lobi Fakultas Teknologi Pertanian INSTIPER Yogyakarta pada 4 Maret 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Eko-Batik Lestari: Pemanfaatan Bio Paraffin Kelapa Sawit sebagai Malam Alternatif Ramah Lingkungan dan Keberlanjutan Batik untuk Gen Z.”
Program ini bertujuan memperkenalkan penggunaan malam berbasis kelapa sawit sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan malam konvensional yang menggunakan parafin berbahan minyak bumi.
Ketua program PKM sekaligus dosen Fakultas Pertanian INSTIPER, Betti Yuniasih, menjelaskan bahwa inovasi tersebut memanfaatkan stearin, salah satu fraksi padat turunan minyak kelapa sawit.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Pada Rabu (4/3), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah
“Program ini bertujuan mengenalkan malam berbahan kelapa sawit yang lebih ramah lingkungan dibandingkan malam paraffin berbasis minyak bumi. Malam sawit ini menggunakan stearin sebagai substitusi dari paraffin,” jelas Betti dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT, Kamis (5/3/2026).
Sementara itu, anggota tim PKM yang juga dosen Fakultas Teknologi Pertanian INSTIPER, Dina Mardhatillah, menuturkan bahwa stearin memiliki sejumlah keunggulan sebagai bahan alternatif malam batik.
“Stearin merupakan fraksi padat dari turunan minyak kelapa sawit yang bersifat biodegradable dan non-toksik, dapat diperbarui serta memiliki emisi karbon lebih rendah. Selain itu, stearin memberikan efek retakan khas pada batik dan membantu malam cepat membeku setelah ditorehkan pada kain,” ujarnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 4–10 Maret 2026 Naik Rp. 55,13 per Kg
Menurut Dina, penggunaan stearin juga mempermudah proses pelepasan malam atau pelodoran pada tahap akhir pewarnaan batik.
Pelatihan membatik ini secara khusus melibatkan mahasiswa generasi Z (Gen Z) sebagai upaya memperkenalkan sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap batik sebagai warisan budaya nasional yang telah diakui dunia.
Para peserta yang sebagian berasal dari luar Pulau Jawa mengaku belum pernah membatik sebelumnya. Bahkan banyak di antara mereka baru mengetahui bahwa turunan minyak kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku malam batik.
BACA JUGA: Pendapatan Melonjak 29%, Laba Bersih Kencana Agri Tumbuh 54% di 2025
Selain memberikan pengalaman baru, kegiatan ini juga menjadi aktivitas menarik bagi para mahasiswa selama bulan Ramadan, karena dilaksanakan pada sore hari sebagai kegiatan ngabuburit menjelang waktu berbuka puasa.
Salah satu peserta, Natasya, mengaku antusias mengikuti pelatihan tersebut karena memberikan pengalaman langsung dalam proses membatik.
“Saya tertarik mengikuti kegiatan ini karena belum pernah belajar membatik sebelumnya. Saya jadi bisa belajar mulai dari menggambar pola, membatik tulis hingga membatik cap. Sebelum ikut pelatihan ini, saya juga tidak tahu kalau turunan minyak sawit bisa menjadi bahan baku malam batik sebagai pengganti paraffin,” ungkapnya.
BACA JUGA: Produksi Kedelai Brasil Direvisi Turun, Cuaca Buruk di Rio Grande do Sul Tekan Hasil Panen
Melalui kegiatan ini, penggunaan malam berbasis kelapa sawit diharapkan dapat menjadi salah satu inovasi menuju praktik membatik yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, keterlibatan generasi muda dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan batik Indonesia di masa depan. (T2)
