“Kita pernah belajar dari sejarah. Saat bibit kelapa hibrida masuk tanpa kontrol ketat, penyakit ikut terbawa dan industri kelapa sempat terpukul pada awal 1990-an. Kesalahan itu tidak boleh terulang di sawit,” jelasnya.
Dalam pandangan Dwi, riset dan pengembangan sawit selalu berada pada titik keseimbangan antara inovasi dan kehati-hatian.
Ia menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas, tetapi juga menjaga ketahanan jangka panjang industri.
“Inovasi itu penting, tapi tanpa keamanan biologis, risikonya sangat besar. Sekali penyakit masuk, dampaknya bisa berlangsung puluhan tahun,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa peningkatan produktivitas sawit nasional tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kekuatan fondasi genetik dan sistem perlindungan hayati yang kokoh. (T2)
