InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Stok minyak sawit Malaysia diperkirakan terus mengalami penurunan hingga akhir Maret 2026, menandai tren penurunan selama tiga bulan berturut-turut di tengah lonjakan ekspor yang melampaui peningkatan produksi.
Dilansir InfoSAWIT dari Platts, bagian dari S&P Global Energy, pada Sabtu (11 April 2026), hasil jajak pendapat terhadap 14 analis, pedagang, dan pelaku industri menunjukkan stok minyak sawit Malaysia berada di kisaran 2,173 juta metrik ton pada akhir Maret.
Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya stok mencapai level tertinggi dalam tujuh tahun, yakni 3,051 juta metrik ton pada akhir Desember 2025. Kondisi tersebut dipicu oleh tingginya produksi serta melemahnya permintaan dari dua pembeli utama, India dan China, berdasarkan data Malaysian Palm Oil Board (MPOB).
Sementara itu, produksi minyak sawit Malaysia pada Maret diperkirakan meningkat menjadi 1,375 juta metrik ton atau naik sekitar 7% dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, kenaikan produksi ini dinilai belum mampu mengimbangi lonjakan ekspor.
Dalam survei yang sama, ekspor minyak sawit Malaysia diperkirakan mencapai 1,565 juta metrik ton atau melonjak 38,9% secara bulanan, menjadi faktor utama penurunan stok.
MPOB dijadwalkan merilis data resmi neraca pasokan dan permintaan pada 10 April 2026.
BACA JUGA: Prabowo: Penyelamatan Rp31,3 Triliun Bukti Komitmen Jaga Kekayaan Negara
Harga Tertekan Sentimen Global
Di sisi lain, harga minyak sawit Malaysia mengalami tekanan signifikan. Kontrak berjangka minyak sawit untuk pengiriman Juni di Bursa Malaysia tercatat turun lebih dari 3% pada 8 April 2026.
Harga kontrak acuan bulan ketiga tersebut diperdagangkan di level RM 4.615 per ton atau sekitar US$1.158,67 per ton, turun 3,1% dibandingkan hari sebelumnya.
Penurunan harga ini dipicu oleh melemahnya harga minyak mentah global setelah adanya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, yang turut menekan harga komoditas energi.
BACA JUGA: SPKS Aceh Utara Ajukan Perbaikan Jalan Kebun, Desak Dukungan Serius Pemerintah
Selain itu, pelemahan harga minyak nabati global serta penguatan nilai tukar Ringgit Malaysia juga memberikan tekanan tambahan pada harga minyak sawit.
Harga minyak sawit memiliki keterkaitan erat dengan harga minyak mentah, mengingat perannya sebagai bahan baku biodiesel. Ketika harga energi fosil turun, daya tarik minyak sawit sebagai alternatif energi ikut melemah.
Di pasar fisik, harga crude palm oil (CPO) FOB Indonesia tercatat stabil di level US$1.265 per ton pada 7 April 2026.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Masih Withdraw Pada Jumat (10/4), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Tertekan
Meski demikian, pelaku pasar mulai melihat munculnya pembeli setelah sebelumnya menahan diri menunggu penurunan harga. Namun, level harga di atas RM 4.900 per ton masih dianggap terlalu tinggi bagi sebagian besar pembeli.
Ke depan, pergerakan harga dan stok minyak sawit global akan sangat dipengaruhi oleh dinamika permintaan, perkembangan pasar energi, serta kebijakan geopolitik yang memengaruhi perdagangan komoditas. (T2)
