Saat ini harga TBS dibawah Rp1.000/kg dibawah nilai keekonomiannya, petani kelapa sawit baru bisa bertahan pada harga Rp1500-1700/kg. PSN akan memberdayakan petani sawit sehingga punya nilai tawar sendiri; harga stabil; posisi dalam rantai pasok , jaringan dan jaminan pasar jelas. Petani menjadi subjek dan bukan objek.
Saat ini ada program PSR (Peremajaan Sawit Rakyat), tetapi di lapangan petani banyak yang ketakutan karena diperiksa kejaksaan dan kepolisian. Kondisi ini merata hampir di seluruh provinsi. Membangun kebun tidak cukup kalau mengandalkan dana BPDPKS, perlu ada lanjutan. PSN akan masuk disini dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada.
Dalam PSR batang sawit hanya ditumbang chipping saja. Padahal potensi ekonomi batang sawit ini sangat besar sekali. Karena itu PSN melibatkan mitra utama dari Jepang yaitu Shin Imai yang merupakan mantan representative FAO dengan memanfaatkan batang sawit sebagai sumber energi biomassa, pupuk dan pakan ternak. “Pada tahap awal kita bangun dua pabrik di Kalbar dan Bangka Belitung dengan teknologi terkini untuk mengolah batang sawit. Kapasitas 5.000 ton/hari yang bisa dipenuhi dari peremajaan seluas 5.000 Ha,” kata Henry.
Syahril, deklator dari Sumbar meyatakan fokus PSN pada petani sawit swadaya. Petani ini banyak yang belum terlindungi. Ketika harga hari ini turun petani swadaya besok langsung turun, sedang plasma bulan depan. Ketika harga naik petani swadaya yang paling akhir. Ada potensi sawit yang belum dimanfaatkan yaitu batang dari hasil replanting. PSN akan bermitra dengan petani memanfaatkan limbah ini menjadi bernilai ekonomi tinggi sebagai langkah awal. Kedepan petani juga bisa punya PKS dan industri hilir.
Misno Udin Tolinggi, deklarator asal Gorontalo menyatakan PSN masuk ke kegiatan-kegiatan yang belum tersentuh oleh petani. Selama ini petani hanya jadi penjual TBS saja, jadi ketiga harga CPO turun imbasnya harga TBS turun. PSN punya program petani jangan hanya jadi penjual TBS saja, ada peluang ekonomi lain dari sawit yang belum tersentuh. Jadi ketika harga CPO dan TBS turun (hal yang biasa bagi petani perkebunan) punya alternatif penghasilan lain.
