InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Diungkapkan salah satu pendiri palm oil analytic, Sathia Varqa, dirinya masih percaya bahwa harga minyak sawit mentah (CPO) akan tetap berada pada RM 4.000 per ton dengan kenaikan kuat lebih dari 30% dalam 10 hari pertama bulan November, dia memperingatkan bahwa harga mungkin anjlok pada kuartal kedua tahun 2023 di tengah kenaikan harga, lantaran produksi diprediksi meningkat dan berkurangnya permintaan pada musim Tahun Baru Imlek.
Dia mengatakan, yang tidak diketahui adalah rencana pembukaan perdagangan di China. Negara China kerap melakukan penutupan kegiatan perdagangan secara singkat, cepat, dan sporadis untuk mengatasi sebaran virus Covid-19.
“Jika ekonomi terkuat kedua di dunia terbuka, ekspor minyak sawit Malaysia akan terus meningkat, stok akan cenderung lebih rendah dan harga mungkin tetap di atas RM4.000,” katanya seperti dikutip InfoSAWIT dari The Edge Markets.
Varqa juga memperkirakan produksi CPO Malaysia berkisar antara 18,5 juta dan 18,9 juta ton tahun depan, sedangkan Indonesia akan mencapai 51 juta ton, naik 3% YoY. “Tidak pasti apakah pemerintahan baru Malaysia [pasca pemilihan umum ke-15 pada 19 November] akan dapat memilah perekrutan pekerja asing,” tandas dia. (T2)
