InfoSAWIT, PEKANBARU – Ketua Koperasi Anugrah, H. Sutoyo, menceritakan sejarah perjuangan petani kelapa sawit swadaya di Desa Air Putih, Kecamatan Lubuk Batu Jaya, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau guna memperoleh sertifikasi minyak sawit berkelanjutan.
Awalnya, tahun 2018 silam, ketika banyak LSM yang tidak suka terhadap perkebunan kelapa sawit. Saat itu, dirinya mencari solusi menghadapi keadaan sulit, dimana hasil panen buah sawit (TBS) tidak dapat dijual ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS).
Awalnya hanya satu (1) kelompok tani yang berhasil mengikuti sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Kemudian petani berinisiatif berkelompok membuat landasan hukum koperasi di Notaris, beranggotakan 302 pekebun, 19 kelompok tani, seluas 900-an hektar lebih. “Petani yang lolos RSPO, sebanyak 238 pekebun, mencakup luas 756 hektare (ha),” kata Sutoyo pada acara SMILE Program Visit yang dihadiri InfoSAWIT di Indragiri, Riau, Selasa (9/5/2023).
BACA JUGA: SMILE Bakal Tingkatkan Kesejahteraan Petani Sawit Swadaya
Lebih lanjut kata Sutoyo, berkat dukungan perusahaan perkebunan kelapa sawit Grup Asian Agri, para petani telah mampu meraih sertifikasi.
Sebab itu Sutoyo berharap, kedepannya petani sawit swadaya bisa setara dengan petani plasma, supaya dapat menghidupi ekonomi keluarga sejalan dengan kemajuan jaman. Sejak 2012 silam, petani plasma Grup Asian Agri telah mendapatkan sertifikasi ISPO, RSPO dan ISCC.
“Kami tidak takut lagi akan tekanan LSM atau NGO, karena sudah tahu cara praktik budidaya terbaik dan berkelanjutan,” katanya.
BACA JUGA: SMILE Meningkatkan Ekonomi Petani Sawit Melalui Sertifikasi RSPO
Cerita Sutoyo, proses sertifikasi memang tidak mudah namun upaya perbaikan dan kelengkapan berkas terus dilakukan selama 3 tahun, dan baru bisa disertifikasi pada Februari 2023 lalu. “Terima kasih kepada program SMILE, Fortasbi dan semua pihak yang membantu,” tandas Sutoyo. (T1)
