Lebih lanjut tutur Darren, dengan berkontribusi di Dana Nusantara, menempatkan pemimpin dari akar rumput pada solusi kunci iklim, dan bergabung dengan gerakan global untuk melindungi hutan dan wilayah di seluruh dunia. “Kita dapat memitigasi krisis iklim dan mencegah kerusakan keanekaragaman hayati yang berdampak pada manusia,” ungkapnya.
Peran penting komunitas adat di negara-negara hutan tropis semakin terancam. Wilayah-wilayah pedalaman dunia diserbu akibat meningkatnya kebutuhan lahan untuk memproduksi kedelai, jagung, dan minyak sawit, serta untuk mengekstraksi bahan bakar fosil dan mineral. Aktivitas ini didorong dengan permintaan akan bahan baku yang dibutuhkan untuk teknologi terbarukan. “Hal- hal ini juga terjadi di Indonesia,” ujar Direktur Eksekutif WALHI, Zenzi Suhadi.
Lanjut Zenzi, Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal di seluruh dunia tidak memiliki perlindungan hukum yang mereka butuhkan untuk menghentikan fragmentasi tanah. Jika hak tanah masyarakat diakui dan ditegakkan oleh pemerintah, akan menjamin mereka dalam mengelola lahannya secara produktif dan berkelanjutan.
BACA JUGA: Sawit Menjadikan Hidup Masyarakat Lebih Baik
Senada diungkapkan Sekretaris Jenderal KPA, Dewi Kartika, Dana Nusantara akan memperkuat gerakan reforma agraria di akar rumput untuk melindungi secara kolektif hak atas tanah dan penghidupan. Sistem pendukung ini akan mendukung serikat tani, perempuan pedesaan, dan pemuda tani dalam memperluas praktik baik model reforma agraria di tingkat desa.
“Pendanaan Nusantara juga menciptakan model baru untuk memberikan dukungan pembangunan kepada masyarakat, yang akan mampu mengurangi kerusakan lingkungan untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan ekonomi,” katanya. (T2)
