InfoSAWIT, JAKARTA – Harga kontrak minyak sawit berjangka di Bursa Malaysia kembali turun untuk sesi ketiga berturut-turut pada Selasa, (5/12/2023), menyusul melemahnya harga minyak nabati lainnya di Bursa Dalian dan Chicago.
Dilansir Reuters, harga kontrak acuan minyak sawit berkode FCPOc3 untuk pengiriman Februari 2024 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun RM 25 per ton atau terdapat penurunan sekitar 0,65% menjadi RM 3,799 (US$ 815,06) pada tengah hari.
Diungkapkan pedagang yang berbasis di Kuala Lumpur, munculnya pembeli penawaran lebih murah telah menutupi kesenjangan pembukaan dan akhirnya melonjak ke level tertinggi. “Meskipun gagal mempertahankannya di tengah berlanjutnya pelemahan harga minyak nabati lain,” katanya.
BACA JUGA: Sinergi Antar Sektor Jadi Kunci Penuhi Target Net Zero Emission (NZE) 2060
Masih dilansir Reuters, harga kontrak minyak kedelai di Bursa Dalian berkode DBYcv1 tercatat turun 0,30%, sedangkan harga kontrak minyak sawit berkode DCPcv1 turun 0,75%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade BOc2 turun 0,23%.
Minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lain, lantaran mereka bersaing untuk memperoleh bagian di pasar minyak nabati global.
Dalam survei yang dilakukan Reuters, persediaan minyak sawit Malaysia pada akhir November diperkirakan turun untuk pertama kalinya sejak April, karena penurunan produksi musiman yang akan dimulai sementara ekspor terus meningkat.
BACA JUGA: Pemprov Bengkulu Bahas Alokasi DBH Sawit 2023, Salah Satunya Untuk Pendataan Sawit Rakyat
Minyak sawit di pasar minyak nabati Eropa turun pada Senin, menyusul turunnya harga minyak sawit berjangka di Malaysia. Harga minyak sawit yang diminta lebih tinggi antara US$ 2,50 per metrik ton dan lebih rendah US$ 12,50 per ton.
Impor minyak sawit India pada November melonjak lebih dari seperlima dibandingkan bulan sebelumnya karena para penyuling lebih memilih minyak tropis karena diskon yang besar dibandingkan dengan minyak kedelai dan minyak bunga matahari. (T2)
