Pertumbuhan pabrik minyak goreng yang berdiri di 4 pulau besar Indonesia ini, terus mendorong adanya pertumbuhan hilirisasi ketahangan pangan berbahan baku minyak sawit. Jika keseriusan membangun hilirisasi pangan, maka keberadaan pabrik minyak goreng ini, dapat menjadi modal besar dalam menumbuhkan industri specialty fats di Indonesia hingga hilirisasi berbagai produk turunannya.
Hilirisasi ketahanan pangan yang bersumber dari minyak sawit ini, dapat pula didorong lebih jauh dengan membangun kawasan industri khusus klaster sawit seperti yang sudah dikembangkan di wilayah Sumatera dengan Kawasan Industri Sei Mangkey dan Kawasan Industri Dumai. Dimana, tujuan utama pembangunan kawasan industri sawit ini, guna mengoptimalisasi nilai tambah melalui berbagai produk turunan sawit.
Hilirisasi Ketahanan Energi Sawit.
Pola hilirisasi ketahanan pangan yang didorong dalam mengembangkan minyak sawit, sejatinya tidak berdiri sendiri, melainkan dapat terus dikembangkan hingga berbagai produk non makanan, seperti industri oleokimia dan biodiesel.
BACA JUGA: Inovasi Sederhana di Kebun Sawit, Menggenjot Efisiensi Mendukung Laba Tinggi
Pola hilirisasi ketahanan energi tidak berdiri sendiri pengembangannya, melainkan selalu mengikuti pertumbuhan industri minyak makanan. Itulah sebabnya, industri minyak goreng tidak bisa dikategorikan sebagai industri hilir melainkan industri menengah yang mampu mendorong hilirisasi pangan dan energi di Indonesia.
Pola pengembangan pangan dan energi yang dilakukan secara simultan, dapat dengan mudah terlihat di berbagai kawasan industri sawit yang sudah berkembang. Namun, dengan alasan kerahasiaan perusahaan, banyak informasi yang sengaja ditutup bagi masyarakat luas. Lantaran, kerahasiaan industri bisa dibilang sebagai “kunci sukses” bagi pengembangan industri hilir sawit di Indonesia.
Pola hilirisasi pangan dan energi berbahan baku sawit di Indonesia, memiliki peranan besar dalam ketahanan pangan dan energi di Indonesia. Melalui keberadaan industri sawit, memang secara nyata berpengaruh besar terhadap kemajuan Indonesia. Kondisi pandemi covid 19 lalu, juga dapat terselamatkan, melalui tumbuhnya kinerja ekspor dari minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya.
Jika keberadaan CSPO yang mampu melibatkan ribuan petani kelapa sawit di Indonesia, mengapa pola hilirisasi minyak sawit juga tidak melakukannya? Berbagai pola yang dapat mendorong kesejateraan masyarakat luas, sejatinya dapat dilakukan melalui berbagai cara yang lebih baik di masa depan. Saatnya, hilirisasi sawit bagi ketahanan pangan dan energi dilakukan melalui keterlibatan jutaan petani kelapa sawit yang tersebar di Indonesia! Selamat Natal 2023 dan Tahun Baru 2024. (*)
