InfoAWIT, JAKARTA – Sejumlah lembaga organisasi masyarakat sipil nonprofit telah meluncurkan Panduan Bebas-Deforestasi untuk Petani Sawit Kecil di Indonesia. Panduan ini tidak hanya memberikan langkah-langkah praktis bagi petani kecil, seperti petani sawit, karet, dan cokelat, untuk mempertahankan hutan mereka tetap utuh, tetapi juga memastikan produk mereka memenuhi standar internasional bebas-deforestasi.
Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Sabaruddin, menyatakan pihaknya berharap dengan pedoman ini para petani sawit kecil anggota SPKS mendapat akses yang lebih adil terhadap pasar. “Serta membantu pemerintah dalam komitmen mengurangi deforestasi,” katanya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Selasa (25/6/2024).
Panduan ini adalah hasil kolaborasi antara High Carbon Stock Approach (HCSA), SPKS, Yayasan Petani Pelindung Hutan (4F), Greenpeace, dan High Conservation Value Network (HCVN), yang melibatkan uji coba lapangan selama empat tahun di Kalimantan Barat. Ini memastikan panduan ini tidak hanya sederhana tapi juga mudah diadaptasi oleh komunitas lokal.
BACA JUGA: 36 Peserta dari 17 Negara Turut Serta Pelatihan Kapasitas Pengelolaan Kelapa Sawit Berkelanjutan
Toolkit ini memberikan panduan praktis mulai dari identifikasi hingga pemetaan area hutan dan lahan di kampung petani. Seluruh prosesnya melibatkan prinsip persetujuan atas dasar informasi yang bebas, prioritas, dan terinformasi (FPIC) dari komunitas terkait.
Perwakilan petani dari Kalimantan Barat, Valens Adi, menyatakan dukungan mereka terhadap toolkit ini, “Toolkit ini benar-benar dikembangkan berdasarkan masukan dari para petani, masyarakat adat, dan komunitas lokal, dan saya telah melihat dampak positifnya di lapangan,” katanya.
Direktur Eksekutif Yayasan Petani Pelindung Hutan (4F), Tirza Pandelaki, menambahkan, dirinya berharap panduan ini dapat diterapkan di seluruh Indonesia. “Serta memberikan insentif kepada petani kecil untuk melindungi hutan mereka,” katanya.
BACA JUGA: Kemenperin Siapkan Roadmap Sawit Indonesia Emas 2045
Sementara Kiki Taufik dari Greenpeace menganggap kontribusi potensial panduan ini terhadap target konservasi dan komitmen iklim Indonesia, sementara Jesús Cordero dari HCSA menekankan pentingnya peran petani kecil dalam rantai pasok global yang bebas deforestasi.
Panduan ini bukan hanya tentang melindungi lingkungan, tetapi juga tentang memastikan keberlanjutan ekonomi bagi petani kecil Indonesia sambil mempertahankan kearifan lokal dan budaya mereka. Dengan kolaborasi antara pemerintah, lembaga internasional, dan komunitas lokal, panduan ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam melindungi sumber daya alam Indonesia untuk generasi mendatang. (T2)
