Buku Ritchie menyampaikan pesan yang kuat kepada para aktivis lingkungan hidup Uni Eropa bahwa data yang solid dan dapat diandalkan lebih penting daripada persepsi publik dalam pengambilan keputusan kebijakan. Pesan ini mengingatkan kita bahwa isu-isu lingkungan seringkali lebih kompleks daripada yang terlihat pada pandangan pertama. Dengan menantang asumsi-asumsi kami dan mencermati data, kami mungkin menemukan bahwa beberapa upaya yang kami niatkan dengan baik ternyata salah sasaran atau bahkan kontraproduktif.
LSM-LSM ramah lingkungan, yang selama ini berkampanye untuk memberi label pada produk-produk yang “tidak mengandung minyak sawit” pada barang-barang konsumen, akan berkontribusi lebih besar terhadap lingkungan hijau jika mereka membantu negara-negara penghasil minyak sawit besar seperti Indonesia mengembangkan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan. Indonesia telah menerapkan skema Minyak Sawit Berkelanjutan Indonesia (ISPO) namun program ini memerlukan bantuan finansial dan teknis karena perkebunan kelapa sawit melibatkan lebih dari 6 juta petani kecil.
Memilih tanaman penghasil minyak lainnya seperti kedelai, minyak zaitun, rapeseed, dan bunga matahari memerlukan penggunaan lebih banyak lahan pertanian dengan mengorbankan lingkungan karena tanaman ini jauh kurang produktif dibandingkan kelapa sawit. (*)
Penulis: Edi Suhardi/ Analis Sawit Berkelanjutan
Disclaimer: Artikel merupakan pendapat pribadi, dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis serta tidak ada kaitannya dengan InfoSAWIT.
