InfoSAWIT, JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Patijaya, mengungkapkan kekhawatirannya terkait tingginya pajak yang dikenakan pada produk turunan kelapa sawit. Pajak tersebut, yang berkisar antara 9% hingga 12%, dinilai cukup membebani sektor industri sawit. Meskipun perusahaan yang berinvestasi dalam kawasan tertentu sudah mendapatkan beberapa insentif, Bambang menilai perlunya tambahan insentif dari pemerintah untuk mendukung pengembangan inovasi di industri ini.
Dalam pernyataannya, Bambang menekankan bahwa insentif tambahan dari pemerintah akan sangat membantu sektor usaha, terutama ketika mereka mengembangkan inovasi baru dalam produksi dan pengolahan sawit. Menurutnya, dukungan tersebut tidak hanya akan meringankan beban pajak yang tinggi, tetapi juga akan mendorong perusahaan untuk lebih giat berinovasi dan meningkatkan investasi mereka di sektor ini.
“Apabila perusahaan yang melakukan inovasi diberikan insentif tertentu dari pemerintah, ini akan menjadi daya tarik tersendiri untuk mengembangkan produk turunan sawit yang lebih berkualitas dan kompetitif,” ujar Bambang dilansir InfoSAWIT dari TVR Parlemen ditulis Rabu (14/8/2024).
Ia menambahkan bahwa inovasi dalam industri sawit sangat penting untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing industri ini di pasar global. Dengan adanya insentif yang tepat, Bambang berharap perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat terus berinovasi dan mengembangkan produk-produk turunan sawit yang bernilai tambah tinggi.
Bambang juga mengajak pemerintah untuk mendengarkan masukan dari sektor usaha, terutama dalam hal pemberian insentif yang dapat memacu inovasi dan investasi. Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan sektor swasta akan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan yang ada dan memanfaatkan peluang dalam industri sawit.
BACA JUGA: Kebun Sawit Untuk Rakyat 20 Persen Didesak Untuk Diterapkan Guna Urai Konflik Sosial
Sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia, kelapa sawit memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan, terutama melalui inovasi yang didukung oleh kebijakan yang pro-investasi dan insentif yang tepat dari pemerintah. Bambang berharap bahwa langkah ini dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen utama kelapa sawit dunia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (T2)
