“Digitalisasi membantu kita bertransisi dari interaksi fisik menjadi interaksi digital yang lebih efisien dan terukur. Ini akan berdampak pada penurunan biaya produksi dan peningkatan daya saing,” ungkapnya.
Menurut Prof. Suhardi, teknologi yang dibutuhkan sejatinya telah tersedia—dari perangkat lunak berbasis internet, perangkat IoT dan sensor, hingga analisis data dan machine learning. Tantangannya kini adalah bagaimana mengintegrasikan sistem biologi di perkebunan dengan sistem digital, sehingga menghasilkan sinergi yang mendorong keberlanjutan dan profitabilitas.
Ia pun mengutip adagium yang menjadi pedoman di ITDI, “Transform or die.” Menurutnya, industri yang tak segera beradaptasi dengan teknologi akan tertinggal. “Transformasi digital bukan soal kapan, tapi seberapa cepat kita bergerak,” pungkasnya.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik 1,02 Persen Pada Jumat (13/6), Harga CPO di Bursa Malaysia Menguat
Melalui kolaborasi lintas sektor dan edukasi berkelanjutan, IPS berharap transformasi digital dapat diadopsi luas hingga ke tingkat pekebun. Webinar ini pun disebut sebagai “seteguk air di padang gurun” oleh Ketua IPS, terutama bagi para planter yang haus akan pengetahuan baru namun terkendala akses pelatihan konvensional.
Dengan semangat ini, industri sawit Indonesia tampaknya mulai menapaki era baru—era yang lebih presisi, transparan, dan berkelanjutan melalui kekuatan digital. (T2)
