InfoSAWIT, JAKARTA — Di tengah derasnya arus informasi soal pangan dan kesehatan, masih ada kesalahpahaman yang kerap beredar tentang minyak sawit. Salah satunya adalah anggapan keliru yang mengaitkan minyak sawit dengan lemak trans (trans fat). Padahal, fakta ilmiah justru menyebut sebaliknya, minyak sawit sama sekali tidak mengandung lemak trans dan kini menjadi solusi utama pengganti lemak trans di berbagai produk makanan.
Dilansir InfoSAWIT dari laporan terbaru Malaysian Palm Oil Council (MPOC), Selasa (1/7/2025), dua hal utama yang perlu diketahui publik terkait isu ini adalah, Lemak trans terbukti sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Sementara minyak sawit tidak mengandung lemak trans sama sekali.
Kedua fakta tersebut telah dikonfirmasi oleh berbagai badan kesehatan dan ilmuwan global, mulai dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa, hingga lembaga-lembaga akademik dan riset ternama di dunia.
BACA JUGA: Dorong Keadilan Agraria, DPRD Riau Inisiasi Pansus untuk Awasi Kewajiban Plasma Perkebunan Sawit
Lemak trans terbentuk dalam proses hidrogenasi parsial (partial hydrogenation), yaitu teknik untuk mengubah minyak nabati cair seperti minyak biji bunga matahari atau rapeseed menjadi bentuk padat agar tahan lama. Sayangnya, proses ini menghasilkan senyawa lemak trans yang terbukti meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL). Lemak ini juga telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan bahkan kanker.
Lembaga seperti Institut Nasional Kesehatan dan Penelitian Medis Prancis (INSERM) dan US FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) telah mengeluarkan peringatan keras mengenai lemak trans. FDA bahkan menyatakan bahwa lemak trans tidak lagi dianggap aman dan telah ditarik dari peredaran di berbagai produk makanan di Amerika Serikat. Uni Eropa pun memberlakukan batas ketat atas konsumsi lemak trans karena risiko penyakit jantung koroner.
Sementara itu, minyak sawit justru hadir sebagai solusi sehat dan alami. Sebagai lemak nabati padat secara alami, minyak sawit tidak melalui proses hidrogenasi parsial, sehingga tidak menghasilkan lemak trans. Inilah alasan mengapa industri makanan di Eropa dan Amerika Serikat kini banyak beralih ke minyak sawit untuk menggantikan minyak yang mengandung lemak trans.
BACA JUGA: SPKS Gencarkan Sosialisasi STDB dan ISPO ke Petani Desa di Bengkayang dan Sambas
Minyak sawit digunakan luas dalam berbagai produk makanan seperti biskuit, pastry, margarin, dan makanan ringan. Ia mampu memberikan tekstur, kestabilan, dan umur simpan yang panjang tanpa risiko kesehatan seperti yang ditimbulkan oleh lemak trans.
Dalam ulasan literatur ilmiah yang dilakukan oleh Dr. Elena Fattore dan Dr. Roberto Fanelli dari Mario Negri Institute for Pharmacological Research di Milan, disebutkan bahwa mayoritas studi tidak menemukan bukti bahwa asam palmitat—komponen utama minyak sawit—berpengaruh buruk terhadap kesehatan jantung. Bahkan, pengaruhnya terhadap rasio HDL/LDL dinilai netral.
