Tapi, ia tak menutup mata terhadap tantangan besar di balik ekspansi masif itu. Infrastruktur rusak, jalan kebun berlubang, pabrik tua, hingga perbedaan budaya kerja antar perusahaan eksisting jadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi. “Ini bukan sekadar bisnis. Ini kerja rekonstruksi nasional,” ujarnya.
Salah satu tantangan terbesar adalah menyatukan ratusan unit usaha yang sebelumnya berdiri sendiri-sendiri. “Kita menyatukan ratusan perusahaan dengan budaya kerja yang berbeda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Kita harus samakan napasnya,” kata Zulham.
Untuk itu, Agrinas menetapkan nilai-nilai kerja yang menjadi fondasi budaya perusahaan, Patriot, Loyal, Profesional, ditambah prinsip dasar seperti disiplin, jujur, dan tanggung jawab.
BACA JUGA: Menggembala Harapan di Kebun Sawit, Suratmi dan Sapi-Sapinya di Kebun Agrinas
“Kalau kita ingin CPO yang unggul, maka SDM-nya juga harus unggul,” tegasnya.
Kini, Zulham tengah merancang peta jalan pengembangan produk Agrinas. Targetnya bukan sekadar menjadi produsen CPO biasa, tapi produsen yang mampu menciptakan kelas produk dari standar, premium, hingga super premium.
“Dengan kebun dan pabrik yang sama, kita bisa menghasilkan kualitas berbeda, tergantung manajemennya. Kelas premium bisa memberikan nilai tambah USD 3–5 per ton, bahkan lebih kalau masuk pasar khusus,” katanya optimistis.
BACA JUGA: Satreskrim Inhu Tangkap Pelaku Karhutla Berkat Aplikasi DLK, Terbakar Demi Sawit
Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan daya saing Agrinas di pasar internasional, sekaligus mendorong optimalisasi nilai aset negara. (T2)
