InfoSAWIT, JAKARTA – Nilai Konservasi Tinggi (NKT) bukan sekadar syarat dalam sertifikasi ISPO maupun RSPO. Bagi petani sawit swadaya, NKT adalah penjaga keanekaragaman hayati sekaligus garda depan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang kian nyata.
Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) menegaskan pentingnya pengelolaan NKT secara optimal, bukan hanya untuk memenuhi prinsip dan kriteria sertifikasi, tetapi juga sebagai langkah strategis menjaga keseimbangan ekosistem.
“NKT harus dilihat sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar kewajiban. Ia adalah perisai biodiversitas, penyaring udara, penjaga kejernihan air, dan penyeimbang iklim,” demikian salah satu pesan utama dari FORTASBI dikutip InfoSAWIT dari laporan terbarunya, Selasa, (22/7/2025).
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Tipis pada Senin (21/7), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Terkoreksi
NKT mencakup area dengan nilai biologis, ekologis, sosial, dan budaya yang sangat penting. Di tangan petani sawit swadaya, NKT bisa dikelola secara langsung dengan pendekatan lokal namun berdampak global.
Data FORTASBI hingga Juni 2025 mencatat, para anggotanya telah menjaga, 121 kilometer kawasan konservasi sungai, 1.246 hektare sempadan sungai, 485,24 hektare kawasan gambut, serta 157,2 hektare kawasan hutan.
Area-area tersebut tak hanya dilindungi, tapi juga dikelola berkelanjutan untuk menjaga fungsinya dalam mitigasi perubahan iklim. Upaya ini bertujuan menahan laju peningkatan suhu global, mengurangi kejadian cuaca ekstrem, dan memperkuat ketahanan perkebunan rakyat.
BACA JUGA: Mimpi Sawit Bebas Emisi
Penjagaan NKT dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana yang bisa diterapkan petani, seperti pelestarian flora-fauna endemik, pemulihan lahan terdegradasi, hingga perlindungan sumber air dan ekosistem langka. Upaya ini juga menjamin keberlanjutan jasa ekosistem, mulai dari penyerbukan alami hingga penyerapan karbon.
“Petani sawit swadaya sebenarnya memegang peran penting dalam perubahan. NKT yang mereka kelola dengan baik bisa menjadi lumbung karbon yang efektif,” ujar perwakilan FORTASBI.
Keberadaan NKT di kebun sawit rakyat, bila dijaga secara konsisten, bukan hanya akan menopang keseimbangan alam, tetapi juga memperkuat posisi petani dalam rantai pasok sawit berkelanjutan. Lebih dari itu, ini adalah bentuk nyata kontribusi petani dalam menjaga bumi.
BACA JUGA: CPOPC: Industri Sawit Jadi Motor Penggerak SDG8 di Negara Berkembang
Investasi dalam perlindungan dan pengelolaan NKT bukan semata tanggung jawab moral, tapi juga langkah bijak untuk masa depan sawit Indonesia yang tangguh menghadapi krisis iklim – sekaligus memastikan kesejahteraan petani sawit berkelanjutan terus tumbuh. (T2)
