InfoSAWIT, SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur semakin serius mengarahkan pembangunan ekonominya ke jalur hijau. Salah satu langkah strategis ditempuh melalui sektor kelapa sawit, yang dinilai memiliki peran penting dalam mendukung transformasi ekonomi berkelanjutan di daerah ini.
Hal tersebut mengemuka dalam Forum Konsultasi Daerah bertema “Untuk Transformasi Ekonomi Kaltim, Peningkatan Produktivitas dan Keberlanjutan Kegiatan Ekonomi Kelapa Sawit” yang digelar di Kantor Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim, Senin. Kegiatan ini digagas oleh Disbun Kaltim bekerja sama dengan Forum Komunikasi Perkebunan Berkelanjutan (FKPB) dan lembaga kerja sama internasional GIZ.
Diskusi dibuka oleh Kepala Bidang Perkebunan Berkelanjutan, Asmirilda, yang mewakili Pelaksana Tugas Kepala Disbun Kaltim. Dalam pemaparannya, ia menekankan peran strategis sawit sebagai penyumbang terbesar ketiga terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim, setelah batu bara dan migas. Tak hanya itu, sektor ini juga menyerap sekitar 12 persen tenaga kerja di provinsi ini.
BACA JUGA: India Geser Posisi, Jadi Importir Terbesar Benih Kelapa Sawit Malaysia
Namun, Asmirilda tak menutup mata terhadap tantangan besar yang masih dihadapi, seperti rendahnya produktivitas dan belum meratanya penerapan standar keberlanjutan di tingkat pekebun rakyat.
“Transformasi ini harus menyasar pada perbaikan praktik perkebunan dan penerapan prinsip-prinsip sosial serta lingkungan. Penguatan rantai pasok, pelatihan bagi penyuluh, insentif, serta sistem monitoring perusahaan menjadi pilar utama,” jelasnya dikutip InfoSAWIT dari Pemprov Kaltim, Rabu (23/7/2025).
Ia optimistis, bila strategi ini diterapkan secara konsisten, produktivitas sawit bisa meningkat dari 2,8 ton menjadi 5 ton CPO per hektare per tahun. Dampaknya, pendapatan daerah dari dana bagi hasil juga diperkirakan melonjak hampir dua kali lipat.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 23-29 Juli 2025 Naik Rp101,46 per Kg
Ketua Harian FKPB Kaltim, Yus Alwi, turut menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor. Menurutnya, keberhasilan transformasi tak hanya bergantung pada pemerintah, tapi juga komitmen swasta, masyarakat, dan mitra pembangunan.
“Kolaborasi adalah kunci. Kami berharap forum ini tidak hanya jadi ruang diskusi, tetapi mampu melahirkan komitmen nyata dalam meningkatkan daya saing dan menjaga keberlanjutan sawit Kaltim,” ujar Yus.
Diskusi ini dihadiri pula oleh sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Ade Cahyat, Fajar Lismawan, dan Iwied dari GIZ, pejabat eselon III Disbun Kaltim, serta Dewan Pakar FKPB.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumsel Periode II-Juli 2025 Tertinggi Rp. 3.218,44 per Kg
Harapannya, hasil pertemuan ini menjadi pijakan awal dalam menyusun strategi daerah yang selaras dengan agenda pembangunan ekonomi hijau Kalimantan Timur, sekaligus menjadikan Kaltim sebagai model sukses transformasi berbasis kelapa sawit berkelanjutan di Indonesia. (T2)
