InfoSAWIT, JAKARTA – Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersejarah untuk mempercepat pertumbuhan inklusif, sertifikasi, dan akses pasar bagi petani sawit rakyat di Indonesia.
Dengan kontribusi hampir 40% terhadap total produksi minyak sawit nasional, petani kecil memegang peranan penting dalam menjaga keberlanjutan industri. Langkah kolaborasi ini dipandang sebagai tonggak baru yang akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin global dalam produksi minyak sawit berkelanjutan.
Indonesia saat ini menyumbang sekitar 55% pasokan minyak sawit dunia. Namun, produktivitas petani kecil masih jauh tertinggal dibanding perkebunan besar. Rata-rata hasil panen petani hanya 2–3 ton per hektare, sedangkan kebun besar mampu mencapai 6–8 ton per hektare. Kesenjangan ini, ditambah dengan keterbatasan akses pembiayaan dan sistem sertifikasi, menimbulkan risiko serius bagi kesejahteraan petani sekaligus daya saing nasional.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 10-16 September 2025 Naik Tipis
Melalui MoU ini, RSPO dan APKASINDO menegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan inklusif yang tidak hanya berfokus pada peningkatan produktivitas, tetapi juga memastikan partisipasi adil, pemberdayaan, serta ketahanan ekonomi pedesaan.
“Nota kesepahaman ini bukan sekadar tentang sertifikasi, tetapi tentang keadilan, ketahanan, dan pertumbuhan inklusif. Setiap ton hasil yang hilang akibat rendahnya produktivitas berarti berkurangnya daya saing Indonesia. Menutup kesenjangan hasil tanpa perluasan lahan adalah kunci mempertahankan keunggulan,” jelas Head of Smallholders RSPO, Guntur Cahyo Prabowo, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Rabu (10/9/2025).
Menurutnya, tanpa langkah inklusif, Indonesia berisiko kehilangan miliaran dolar setiap tahun akibat rendahnya produktivitas, hilangnya peluang pasar premium, hingga potensi dikeluarkan dari pasar global yang semakin ketat regulasinya, termasuk aturan European Union Deforestation Regulation (EUDR).
BACA JUGA: Pongamia Pinnata, Sumber Bioenergi Masa Depan Pesaing Kelapa Sawit
Senada, Ketua Umum DPP APKASINDO, Gulat ME Manurung, menegaskan bahwa MoU ini menjadi tonggak sejarah bagi petani sawit rakyat. “Selama ini, petani sering dipandang hanya sebagai pemasok marjinal, padahal kami menyumbang hampir 40% produksi nasional. Dengan kolaborasi strategis bersama RSPO, kami diakui sebagai mitra sejajar dalam rantai pasok global,” ungkapnya.
Bagi APKASINDO, lanjut Gulat, kerja sama ini bukan hanya soal sertifikasi, melainkan juga masa depan jutaan keluarga petani. “Ini menyangkut akses pembiayaan, pasar yang adil, peningkatan produktivitas tanpa membuka lahan baru, serta memperkuat ketahanan ekonomi desa. Dengan begitu, Indonesia bisa menjaga kepemimpinan dalam minyak sawit berkelanjutan,” tambahnya.
Kerja sama RSPO dan APKASINDO juga menjadi ajakan terbuka bagi pemerintah, lembaga keuangan, serta pelaku industri untuk membangun ekosistem yang mendukung petani kecil. Dengan pengakuan sebagai mitra sejajar, Indonesia bukan hanya menjaga keberlanjutan, tetapi juga memperkokoh posisinya sebagai pemimpin global dalam industri sawit yang adil, inklusif, dan tangguh. (Ignatius Ery Kurniawan)
