Meski begitu, wacana ini bukan hal baru. Beberapa tahun lalu isu serupa sudah pernah muncul, namun selalu mendapat penolakan keras. Fakta itu menegaskan tarik-menarik kepentingan antara korporasi, pemerintah, dan masyarakat yang belum menemukan jalan tengah.
Nilai Strategis Sidamanik
Sidamanik tidak hanya bicara soal neraca laba rugi. Kawasan ini punya nilai strategis sebagai destinasi wisata dan penopang ekonomi lokal. Dari pedagang kecil, pemandu wisata, hingga penginapan rakyat menggantungkan hidup pada keberadaan kebun teh. Jika teh berganti sawit, bukan hanya lanskap yang berubah, melainkan juga ekosistem sosial-ekonomi di sekitarnya.
“Teh Sidamanik sudah menjadi bagian dari imajinasi kolektif masyarakat Sumatera Utara. Menghapusnya sama dengan menghapus memori sosial,” ujar seorang akademisi dari Universitas Sumatera Utara.
BACA JUGA: Limbah Sawit Jadi Energi Hijau, Kemenperin Dorong Pemanfaatan TKKS untuk Bioethanol
Konflik Sidamanik menggambarkan tarik-menarik kepentingan antara logika korporasi dan kebutuhan sosial-budaya masyarakat. Di satu sisi, perusahaan pelat merah dituntut memberi keuntungan dan tetap kompetitif di pasar global. Di sisi lain, masyarakat berharap negara tidak mengorbankan identitas lokal dan keberlanjutan demi keuntungan semata.
Kini bola panas berada di tangan para pengambil kebijakan. Apakah Sidamanik akan tetap dikenang sebagai hamparan teh yang melegenda, atau perlahan berubah wajah menjadi kebun sawit?
Sejarah sedang menulis ujiannya. Dan Sidamanik, dengan segala jejaknya, berada tepat di persimpangan itu. (*)
Disclaimer: Artikel merupakan pendapat pribadi, dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis serta tidak ada kaitannya dengan InfoSAWIT.
