InfoSAWIT, JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan pentingnya riset dan inovasi dalam mendukung peran strategis kelapa sawit bagi ketahanan energi nasional. Hal itu disampaikan Ketua BRIN, Laksana Tri Handoko, melalui sambutan yang dibacakan Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi, Boediastoeti Ontowirjo, pada pembukaan Indonesia Palm Oil Research & Innovation Conference and Expo (IPORICE) ke-2 yang berlangsung 1–3 Oktober 2025.
Dalam sambutannya, Handoko menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya forum ini, yang mengusung tema “Penguatan Sinergi Sektor Perkebunan Sawit untuk Mendukung Ketahanan Energi Berbasis Inovasi Teknologi.” Menurutnya, tema tersebut relevan dengan prioritas pembangunan nasional 2025–2029, khususnya agenda penguatan ketahanan energi yang juga menjadi bagian dari misi Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemandirian energi Indonesia.
“Industri sawit nasional telah memberikan kontribusi signifikan bagi ketahanan energi melalui program mandatori biodiesel. Sejak diluncurkan lewat Peraturan Menteri ESDM Nomor 32 Tahun 2008, kebijakan ini terus berkembang hingga pada 2021 Indonesia berhasil mencapai pencampuran 40 persen (B40). Program ini tidak hanya menopang perekonomian, tetapi juga mendukung pembangunan sosial dan keberlanjutan lingkungan,” kata Handoko dalam acara IPORICE ke 2 yang dihadiri InfoSAWIT, Rabu (1/10/2025).
BACA JUGA: BPDP Dukung Konferensi Petani Sawit IPOSC ke-5 di Kalbar
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan global masih membayangi, mulai dari isu keberlanjutan, tekanan lingkungan internasional, hingga disrupsi teknologi digital. Karena itu, riset dan inovasi menjadi kunci untuk menjaga daya saing industri sawit.
Handoko mencontohkan capaian riset BRIN di bidang bioenergi, seperti pengembangan katalis berbasis metal-organic framework untuk mengolah minyak sawit menjadi bioavtur, yang pada 2024 berhasil meraih penghargaan internasional UNESCO For Women in Science Award. BRIN juga tengah mengembangkan teknologi optimasi biodiesel serta konversi biomassa sawit menjadi energi melalui reaktor generasi baru.
“Semua capaian ini hanya mungkin terwujud melalui kolaborasi erat dengan mitra, termasuk Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang mendukung riset melalui skema hibah, sekaligus menjadi sponsor kegiatan IPORICE tahun ini,” lanjutnya.
BACA JUGA: Produk Bersertifikasi RSPO Tampil di INACRAFT 2025
Ia menegaskan, IPORICE menjadi wadah konvergensi antara riset, kebijakan, dan industri—science to science, science to policy, dan science to society. Model ini, menurutnya, penting untuk memperkuat keterlibatan industri sekaligus memperluas pemahaman publik mengenai kontribusi riset dan inovasi terhadap pembangunan nasional.
“Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, saya optimistis IPORICE dapat menjadi momentum penting dalam mempercepat transformasi energi berbasis sawit berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari hulu hingga hilir,” catat Handoko dalam sambutannya. (T2)
