InfoSAWIT, JAKARTA – Program Perhutanan Sosial terus menjadi tonggak penting dalam mewujudkan pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis masyarakat. Di Kalimantan Barat, semangat ini kian nyata melalui kolaborasi antara Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sembelangaan dan Bumitama Gunajaya Agro (BGA Group), yang berhasil mengubah kawasan rawan kebakaran menjadi lahan produktif dan hijau kembali.
Selama bertahun-tahun, sebagian lahan di Simpang Tiga Sembelangaan dikenal sebagai area langganan kebakaran hutan. Namun, sejak 2021, perubahan mulai terlihat. Melalui kemitraan dengan BGA, masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Sumber Tani berhasil melakukan rehabilitasi lahan secara bertahap. Kini, kawasan tersebut bebas dari kebakaran dan mulai menghasilkan manfaat ekonomi bagi warga.
BGA memberikan berbagai bentuk dukungan, mulai dari bibit tanaman, pupuk kompos dari janjangan kosong (jangkos) sawit, biaya penanaman dan perawatan, hingga pendampingan teknis dan pembangunan infrastruktur seperti sistem pengairan dan perbaikan jembatan. Program ini juga dilengkapi dengan kegiatan monitoring dan evaluasi rutin untuk memastikan keberlanjutan hasilnya.
BACA JUGA: CPOPC dan World Bank Angkat Sawit di Panggung Dunia
Inisiatif ini merupakan bagian dari program “Bumitama Berdaya”, yang menekankan pemberdayaan masyarakat sebagai motor penggerak pelestarian lingkungan. Melalui pendekatan kolaboratif, BGA berupaya menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap lahan yang mereka kelola.
Menurut Andi Amin, Head of Sustainability Governance Department BGA, perbaikan kualitas tanah menjadi prioritas utama dalam pemulihan lahan.
“Kami melakukan pengendalian gulma tanpa bahan kimia serta menggunakan pupuk organik dan non-organik secara bertahap untuk memperbaiki kualitas tanah. Setelah beberapa tahun, pH tanah meningkat dari 3–5 menjadi sekitar 6–7, mendekati kondisi ideal bagi pertumbuhan tanaman,” jelasnya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Selasa (21/10/2025).
BACA JUGA: Dua Kreator Muda Indonesia Wakili FORTASBI di Ajang YOUth @RT2025 Kuala Lumpur
Kini, di atas lahan seluas 10 hektare, KUPS Sumber Tani menanam berbagai komoditas seperti jeruk, kakao, pisang, jambu mete, mangga, kelengkeng, alpukat, dan petai. Sebagian lahan juga dimanfaatkan untuk tumpang sari hortikultura seperti timun, cabai, dan semangka. Dari 400 batang jeruk yang ditanam, sebagian sudah mulai dipanen dan dijual secara mandiri.
Sementara itu, KUPS Sumber Joyo, yang juga berada di bawah LPHD Sembelangaan, telah menanam kakao seluas 7 hektare dengan dukungan BGA sejak 2021. Upaya ini menjadi bagian dari strategi pengurangan emisi karbon melalui sistem agroforestry, yakni mengombinasikan kakao dengan tanaman penaung. KUPS Sumber Joyo kini menggandeng Kalara Borneo dalam pengembangan rantai pasok kakao, dan diharapkan mulai memasok bahan baku pada pertengahan 2026.
