“Kesejahteraan pekebun kecil dijaga, dan pelatihan diberikan agar praktik penanaman mereka sesuai standar,” jelas Razali.
Pelatihan itu mencakup praktik agronomi berkelanjutan, manajemen kebun yang ramah lingkungan, hingga pemenuhan regulasi yang menjadi dasar sertifikasi industri.
Rencana Malaysia untuk bergabung dengan IUCN mengisyaratkan perubahan pendekatan: dari defensif menjadi proaktif. Dengan keterlibatan langsung, Malaysia berharap dapat duduk di meja diskusi, menyampaikan data, sekaligus terlibat dalam penyusunan panduan konservasi yang sering memengaruhi opini global.
BACA JUGA: Indonesia Dorong Sawit Bertumbuh, Produktivitas dan Teknologi Jadi PR Utama
Bagi industri sawit Malaysia, langkah ini bukan hanya soal reputasi — tetapi juga tentang menjaga akses pasar, memperkuat kepercayaan, dan memastikan masa depan komoditas strategis negara itu tetap kompetitif. (T2)
