InfoSAWIT, JAKARTA — Indonesia boleh bangga menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia, namun sejumlah catatan penting menunjukkan bahwa industri ini masih harus berbenah. Produktivitas kebun, efisiensi rantai pasok, hingga kesiapan teknologi dinilai masih tertinggal dibanding Malaysia yang telah melaju lebih dulu dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Pandangan tersebut mengemuka dalam paparan Kepala Pusat Riset Ekonomi, Industri, Jasa, dan Perdagangan OR-TKPEKM BRIN, Umi Mu’Awanah, yang menilai bahwa industri sawit nasional sedang berada di persimpangan jalan. Dengan ambisi besar pemerintah mendorong energi berbasis sawit—mulai dari biodiesel hingga bioavtur—pertanyaan mendasar kini muncul: apakah Indonesia siap menguasai rantai nilai secara penuh, atau justru hanya menjadi pemasok bahan mentah?
Menurut Umi, tantangan terbesar saat ini adalah daya saing dan efisiensi. “Kita produsen terbesar, tapi masih berjalan dengan kecepatan lambat dalam penguatan produktivitas dan teknologi,” tulisnya. Kondisi itu dinilai semakin krusial ketika wacana implementasi biodiesel B50 terus bergulir, sementara kapasitas bahan baku dalam negeri masih menjadi pertanyaan.
BACA JUGA: Rektor Instiper Dorong Pendidikan Modular dan Adaptif Hadapi Perubahan Zaman
Hingga kini, sebagian besar mesin dan teknologi pengolahan masih diimpor. Sementara potensi riset dalam negeri disebut belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk itu, Umi mendorong agar ekosistem riset dan inovasi diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor—melibatkan pemerintah, industri, akademisi, lembaga pembiayaan seperti BPDP, hingga pelaku riset.
“Riset tidak boleh berhenti di atas kertas. Harus menjawab kebutuhan industri—baik peningkatan hasil panen, efisiensi proses, maupun percepatan hilirisasi,” ujarnya, dalam sebuah acara yang dihadiri InfoSAWIT di Jakarta, awal Oktober 2025 lalu.
Ia menilai, sawit harus ditempatkan sebagai bagian dari agenda besar energi berkelanjutan dan ketahanan nasional. Pemanfaatannya tidak hanya untuk pangan, tetapi juga untuk energi masa depan seperti avtur nabati. Karena itu, strategi riset terintegrasi diperlukan untuk menjawab isu produktivitas, lingkungan, hingga mitigasi limbah.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Pada Rabu (26/11), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Menguat Tipis
Dalam konteks global, Indonesia tak bisa berjalan sendiri. Standar keberlanjutan terus bergerak, persaingan semakin ketat, dan pasar menuntut efisiensi yang lebih tinggi. Meski memiliki potensi besar, tanpa eksekusi konkret, industri sawit nasional berisiko tertinggal dalam kompetisi internasional.
“Sudah saatnya sawit Indonesia naik kelas, bukan hanya sebagai komoditas ekspor, tetapi sebagai kekuatan strategis bagi kemandirian energi dan keberlanjutan ekonomi nasional,” tegas Umi. (T2)
