Ketidakseimbangan tersebut terus memberikan tekanan pada harga CPO, sehingga membatasi ruang kenaikan meskipun fundamental pasar sempat mendukung pada paruh pertama tahun ini.
Di sisi kebijakan domestik, terdapat kabar baik bagi para pekebun kecil melalui Anggaran 2026. Pemerintah mengalokasikan hampir RM2,4 miliar untuk melindungi lebih dari 720.000 peneroka, pekebun kecil, serta keluarga mereka di bawah naungan FELDA, RISDA, dan FELCRA.
“Peruntukan ini bertujuan memodernisasi agribisnis dan memperkuat sokongan kepada pekebun kecil,” tulis Danni Haizal dalam laporannya.
BACA JUGA: Sawit Rakyat di Ujung Gading Julu
Selain itu, sekitar RM20 juta dialokasikan untuk mendukung perusahaan rintisan dalam pengembangan produk mekanisasi dan otomasi, bekerja sama dengan Lembaga Minyak Sawit Malaysia dan perusahaan-perusahaan besar industri sawit.
“Inisiatif ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja asing serta mendorong inovasi lokal,” menurut laporan tersebut.
Menatap ke depan, sektor minyak sawit Malaysia diperkirakan tetap memiliki prospek yang solid meskipun beroperasi di tengah persaingan global yang semakin ketat.
BACA JUGA: ERP Plantation, Otak Digital Perkebunan
“Harga CPO berpotensi bergerak naik menuju RM4.500 per ton pada 2026,” tulis Danni Haizal Danial Donald, “didukung oleh permintaan impor yang stabil menjelang Tahun Baru Imlek dan Ramadan, serta ketidakpastian kebijakan di Indonesia yang terus menopang harga minyak sawit.” (T2)
