Narasi yang menyederhanakan masalah justru berisiko mematahkan semangat perubahan. Alih-alih memperkuat praktik baik, stigma berkepanjangan dapat mendorong petani kembali pada praktik lama: murah, cepat, tetapi rapuh secara ekologis. Di titik inilah apresiasi menjadi penting—bukan sebagai pujian kosong, melainkan sebagai pengakuan bahwa perubahan sedang berlangsung dan layak didukung.
Tentu, keberlanjutan sawit tidak bisa berdiri sendiri. Pemerintah memegang peran sentral: dari penataan tata ruang yang konsisten, penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan, hingga memastikan petani rakyat mendapat akses pembiayaan dan pendampingan. Tanpa itu, sawit berkelanjutan akan berhenti sebagai jargon kebijakan.
Bencana di Sumatera seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk melihat persoalan secara utuh. Alam rusak tidak pernah lahir dari satu sebab tunggal. Ia adalah hasil dari kebijakan, praktik, dan pilihan yang terakumulasi.
Sawit, dengan segala kontroversinya, kini berada di persimpangan. Apakah ia akan terus tersudut oleh stigma, atau diberi ruang untuk membuktikan bahwa keberlanjutan bukan sekadar janji, melainkan jalan yang sedang—dan harus—ditempuh bersama. (*)
