Energi yang Tertahan di Kebun Sawit

oleh -537 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/Memet Hakim / Dosen Luar Biasa Universitas Padjadjaran, Pengamat Perkebunan.

Pendekatan Production Force Management (PFM)—yang bertumpu pada manajemen akar, manajemen kanopi, dan pemupukan presisi—diperkirakan mampu mendorong produktivitas nasional menuju 100 juta ton per tahun dalam tiga tahun.

Yang menarik, pendekatan ini tidak menuntut biaya luar biasa. Ia bekerja pada biaya normal perkebunan, hanya dengan disiplin tata kelola yang jauh lebih baik.

Bahkan tanaman berusia 20–25 tahun, yang lazim dianggap menurun produktivitasnya, dalam pendekatan ini masih dapat kembali menghasilkan optimal.

BACA JUGA: Grant Riset BPDP 2026 Dibuka, BPDP Tekankan Dampak Nyata dan Seleksi Administratif yang Ketat

Jika target 100 juta ton tercapai, Indonesia memperoleh tambahan produksi sekitar 50 juta ton.

Tambahan sebesar itu cukup untuk:

  • memperkuat pasokan biosolar,
  • menopang kebutuhan BBM bersubsidi,
  • bahkan sebagian dapat diarahkan menutup kebutuhan bahan bakar aviasi seperti avtur, sembari mempertahankan kuota ekspor sekitar 25 juta ton.

Dalam skenario itu, sawit tak lagi sekadar komoditas ekspor. Ia berubah menjadi instrumen kedaulatan energi nasional.

BACA JUGA: Sawit 2,3 Juta Hektar: Ambisi Besar, PR Lama yang Belum Tuntas

 

Negara Harus Hadir Lebih Tegas

Tetapi intensifikasi tak akan berjalan hanya dengan seminar, pidato, atau slogan hilirisasi.

Negara harus turun tangan.

Perusahaan yang memegang izin namun gagal mengelola kebun secara profesional perlu dievaluasi serius. Bila perlu, konsesi seperti itu dialihkan kepada pengelola yang lebih kompeten—baik BUMN perkebunan maupun perusahaan yang terbukti memiliki kapasitas manajerial kuat.

Pemerintah juga perlu membuka akses pembiayaan bagi perkebunan rakyat, Perkebunan Besar Swasta, maupun Perkebunan Besar Negara, agar mereka mampu melakukan pemupukan optimal, memperbaiki jalan produksi, memperbaiki drainase, dan membangun sistem panen yang efisien.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 29 April – 5 Mei 2026 Naik Rp15,16 per Kg

Karena tanpa infrastruktur dasar, produktivitas hanyalah teori di atas kertas.

 

Ketahanan Energi Dimulai dari Kebun yang Terurus

Pada akhirnya, ketahanan energi Indonesia mungkin tidak selalu harus dimulai dari kilang baru, pipa baru, atau eksplorasi energi baru.

Bisa jadi, ia justru dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana: kebun sawit yang dipupuk tepat waktu, drainase yang bekerja, jalan produksi yang bisa dilalui, dan tandan buah yang sampai ke pabrik pada saat terbaiknya.

BACA JUGA: Ratusan Miliar Dana Riset Sawit Digelontorkan, Saatnya Hasil Litbang BPDP Menyentuh Industri

Indonesia telah lama mencari energi ke luar, padahal sebagian jawabannya tumbuh diam-diam di kebun sendiri.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita sungguh ingin memanennya, atau kembali membiarkan peluang itu hilang begitu saja? (*)

Penulis: Memet Hakim / Dosen Luar Biasa Universitas Padjadjaran, Pengamat Perkebunan.

Disclaimer: Artikel merupakan pendapat pribadi, sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis dan tidak ada kaitannya dengan InfoSAWIT.


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com