Ketika Bibit Salah, Produktivitas Pun Lumpuh
Masalah lain tersembunyi di akar persoalan—secara harfiah.
Masih banyak kebun rakyat, terutama di Sumatera Barat, Riau, dan sejumlah wilayah lain, menggunakan bibit asalan, umumnya varietas Dura, yang produktivitasnya jauh di bawah benih unggul.
Potensi Dura hanya sekitar 11–14 ton TBS per hektare per tahun.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode IV-April 2026 Turun Rp. 117,36 per Kg
Bandingkan dengan bibit Dura x Pisifera, yang produktivitasnya dapat mencapai 40 ton TBS per hektare, bahkan pada skala percobaan mampu menembus 45 ton per hektare.
Perbedaan ini bukan sekadar angka teknis. Ia adalah selisih pendapatan, selisih kesejahteraan, sekaligus selisih daya saing nasional.
Jika bibit yang digunakan salah sejak awal, maka seluruh rantai produksi berikutnya sesungguhnya sudah dimulai dari titik yang kalah.
BACA JUGA: SSMS Tebar Dividen Rp800 Miliar, Perkuat Tata Kelola Berkelanjutan Sambut Prospek Sawit 2026
Produktivitas Nasional yang Terlalu Rendah
Dengan tata kelola seperti itu, tak mengherankan jika produktivitas nasional sawit Indonesia rata-rata masih berkisar 13 ton TBS per hektare, yang menghasilkan sekitar 3 ton minyak sawit (CPO + PKO).
Padahal dalam skala percobaan, potensi produksi minyak sawit bisa mencapai 10–12 ton per hektare.
Artinya, Indonesia baru memanfaatkan kurang dari sepertiga kemampuan biologis tanaman sawit itu sendiri.
Selisih inilah yang menjadi inti persoalan.
Bukan sawit Indonesia yang lemah. Yang lemah adalah manajemen produksinya.
Jalan Keluar Bernama Intensifikasi
Dalam pandangan agronomis, jalan keluarnya sesungguhnya sudah jelas: intensifikasi.
Bukan ekspansi membabi buta, melainkan mengeluarkan potensi kebun yang sudah ada melalui pengelolaan yang benar.
